Skip to content
Menakar Kekuatan Ekspor Mobil Buatan Indonesia di Tengah Pergeseran Pasar GlobalBaterai LFP vs NMC untuk mobil listrik di iklim tropis IndonesiaMenelisik Syarat Garansi Baterai Seumur Hidup Mobil ListrikHonda Terlempar dari Tiga Besar, Brio Jadi Tulang Punggung 64 Persen PenjualanChina Ambil Headline, Toyota Ambil Untung dari Pasar Hybrid IndonesiaInfrastruktur SPKLU Indonesia Kalah dari Thailand dan ASEANGanti Warna Logo: Ketika Dealer Mobil Jepang Mulai Berpindah ke Merek ChinaPangsa Pasar Astra Turun ke 49%, Benarkah Dominasi Jepang di Indonesia Sudah Melemah?Menakar Kekuatan Ekspor Mobil Buatan Indonesia di Tengah Pergeseran Pasar GlobalBaterai LFP vs NMC untuk mobil listrik di iklim tropis IndonesiaMenelisik Syarat Garansi Baterai Seumur Hidup Mobil ListrikHonda Terlempar dari Tiga Besar, Brio Jadi Tulang Punggung 64 Persen PenjualanChina Ambil Headline, Toyota Ambil Untung dari Pasar Hybrid IndonesiaInfrastruktur SPKLU Indonesia Kalah dari Thailand dan ASEANGanti Warna Logo: Ketika Dealer Mobil Jepang Mulai Berpindah ke Merek ChinaPangsa Pasar Astra Turun ke 49%, Benarkah Dominasi Jepang di Indonesia Sudah Melemah?
Tips

Pilih warna mobil bukan soal selera: ini dampaknya terhadap harga jual kembali

Pilihan warna mobil ternyata bisa beda harga jual kembali sampai 13%. Ini data lengkapnya dan rekomendasi warna yang aman untuk pasar Indonesia.

Saat beli mobil baru, sebagian besar orang memilih warna berdasarkan satu hal: suka atau tidak suka. Wajar, memang. Tapi kalau kamu berencana menjual kembali mobil itu dalam 3 sampai 5 tahun ke depan, ada satu variabel yang sering diabaikan dan dampaknya tidak kecil: warna mobil jual kembali ternyata berbeda cukup signifikan tergantung pilihan warna. Data dari pasar mobil bekas internasional menunjukkan selisih nilai jual antarwarna bisa mencapai 13 persen lebih, setara puluhan juta rupiah di atas mobil yang seharga Rp 300-400 jutaan.

Data yang sering diabaikan saat beli mobil baru

Berdasarkan data yang dikompilasi dari berbagai analisis pasar mobil bekas, warna kendaraan secara konsisten mempengaruhi seberapa cepat mobil terjual dan berapa harganya. Temuan yang paling mengejutkan adalah bahwa warna yang paling populer di showroom belum tentu yang paling menguntungkan di pasar bekas.

Secara umum, pola yang terlihat adalah sebagai berikut: warna kuning mengalami penurunan nilai jual paling kecil, sekitar 4,5 persen dari harga beli. Warna oranye berada di urutan kedua dengan penurunan sekitar 10,7 persen. Di sisi lain, warna yang paling umum dipilih, yaitu putih dan hitam, justru mengalami penurunan nilai yang lebih besar: putih sekitar 15,5 persen dan hitam 16,1 persen. Warna emas dan coklat punya penurunan paling tajam, masing-masing 16,7 dan 17,8 persen.

Catatan metodologi

Data persentase di atas mengacu pada riset pasar mobil bekas dari beberapa market analysis internasional yang telah dikutip oleh berbagai media otomotif. Angka aktual di pasar Indonesia bisa bervariasi tergantung model, merek, dan kondisi kendaraan, namun pola trennya cenderung serupa.

Mengapa kuning dan oranye justru lebih “aman” secara nilai?

Logika di balik temuan ini cukup sederhana. Warna-warna seperti kuning dan oranye jarang dipilih orang saat beli mobil baru, artinya supply-nya di pasar bekas sangat terbatas. Sementara permintaannya tetap ada, bahwa selalu ada segmen pembeli yang justru mencari sesuatu yang berbeda dari lautan putih dan hitam di jalan raya. Ketika supply rendah tapi demand tetap ada, harga tidak perlu banyak diturunkan untuk menarik pembeli.

Kondisi sebaliknya terjadi dengan warna putih dan hitam. Keduanya sangat populer sehingga di pasar bekas, pembeli punya banyak pilihan. Penjual harus menurunkan harga lebih kompetitif untuk bisa bersaing. Popularitas di showroom ternyata menjadi kelemahan di pasar bekas.

Warna yang perlu dipikirkan ulang

Jika nilai jual kembali adalah prioritas, warna emas, coklat, dan biru muda sebaiknya dihindari. Warna emas sempat populer di era SUV Toyota generasi lama, tapi kini semakin sulit menarik pembeli di pasar bekas. Coklat punya masalah serupa: dianggap “terlalu spesifik” dan susah dicocokan dengan selera banyak orang. Biru muda yang sempat populer di segmen hatchback juga mengalami hal yang sama.

Warna merah, hijau, dan biru tua justru berada di tengah: tidak sepopuler putih dan hitam, tapi cukup universal untuk menarik berbagai segmen pembeli. Data menunjukkan penurunan nilai ketiga warna ini sedikit lebih baik dari putih dan hitam karena tampilannya yang lebih “fresh” di mata pembeli bekas.

Konteks Indonesia: pasar yang punya karakteristik sendiri

Pasar mobil bekas Indonesia memiliki karakteristik yang sedikit berbeda dibanding pasar internasional. Di sini, putih tetap menjadi raja, terutama untuk segmen MPV dan SUV. Pembeli bekas Indonesia cenderung sangat konservatif soal warna, dan mayoritas menginginkan sesuatu yang “aman” untuk dijual lagi. Paradoksnya, ini membuat pasar bekas Indonesia lebih mirip dengan temuan global: terlalu banyak stok putih, persaingan harga ketat.

Satu kondisi yang unik di Indonesia adalah besarnya pasar fleet dan rental. Mobil bekas eks-rental atau eks-kantor umumnya putih atau hitam, dan ini menambah supply di segmen tersebut secara signifikan.

Untuk kamu yang sekarang sedang menyusun shortlist mobil baru, pertimbangkan ini sebagai salah satu faktor kalkulasi, terutama jika horizon kepemilikannya di bawah 5 tahun. Dan kalau kamu sedang membaca ini sambil mempertimbangkan hybrid atau EV, kami sudah menyusun panduan lengkap beli mobil hybrid Indonesia yang juga membahas faktor nilai jual dari angle yang berbeda. Soal biaya kepemilikan jangka panjang, termasuk perbandingan biaya servis, juga sudah kami bahas di artikel biaya servis EV vs ICE di Indonesia.

Rekomendasi praktis

Kalau kamu tidak terlalu peduli soal harga jual kembali dan lebih mementingkan kepuasan personal, pilih warna apapun yang kamu suka, karena pada akhirnya kamu yang akan melihat mobil itu setiap hari. Tapi kalau investasi adalah pertimbangan utama, putih dan perak adalah jalan tengah yang paling masuk akal untuk pasar Indonesia: cukup populer untuk mudah dijual, cukup netral untuk bertahan di berbagai kondisi. Hindari coklat, emas, dan biru muda kecuali kamu sangat yakin dengan selera pasarmu.

Satu hal lagi yang sering dilupakan: kondisi cat adalah faktor yang jauh lebih besar dari warna itu sendiri. Mobil putih baret tetap akan kalah jauh dari mobil merah yang terawat sempurna. Data riset GridOto soal pengaruh warna terhadap nilai jual kembali dan analisis dari Detik Oto soal warna yang membuat harga anjlok bisa jadi referensi tambahan sebelum kamu finalisasi pilihan warnamu.

Editor-in-chief Bros & Roads. Nulis dari jalanan, bukan dari kursi kantor.