Skip to content
Akselerasi BYD di Indonesia, Mengapa City Car Listrik Mampu Menggeser Peta PasarGeliat Pasar Mobil Pikap Indonesia, Tulang Punggung Logistik yang Tembus 89 Ribu UnitMembaca Arah Regulasi TKDN Mobil Listrik dan Peta Industri Komponen LokalJalan Terjal Kredit Mobil Baru, Saat Multifinance Mengetatkan Keran PembiayaanMenakar Kekuatan Ekspor Mobil Buatan Indonesia di Tengah Pergeseran Pasar GlobalBaterai LFP vs NMC untuk mobil listrik di iklim tropis IndonesiaMenelisik Syarat Garansi Baterai Seumur Hidup Mobil ListrikHonda Terlempar dari Tiga Besar, Brio Jadi Tulang Punggung 64 Persen PenjualanAkselerasi BYD di Indonesia, Mengapa City Car Listrik Mampu Menggeser Peta PasarGeliat Pasar Mobil Pikap Indonesia, Tulang Punggung Logistik yang Tembus 89 Ribu UnitMembaca Arah Regulasi TKDN Mobil Listrik dan Peta Industri Komponen LokalJalan Terjal Kredit Mobil Baru, Saat Multifinance Mengetatkan Keran PembiayaanMenakar Kekuatan Ekspor Mobil Buatan Indonesia di Tengah Pergeseran Pasar GlobalBaterai LFP vs NMC untuk mobil listrik di iklim tropis IndonesiaMenelisik Syarat Garansi Baterai Seumur Hidup Mobil ListrikHonda Terlempar dari Tiga Besar, Brio Jadi Tulang Punggung 64 Persen Penjualan
Berita

6 merek baru GIIAS 2026, setengahnya pure EV

GIIAS 2026 akan debutkan 6 merek baru, termasuk Leapmotor, BAW, Changan, dan Farizon. Apa artinya ini bagi konsumen yang sedang memilih mobil listrik di Indonesia?

Lima merek pure EV debut di GIIAS 2026

Dua puluh enam persen. Itu porsi elektrifikasi di pasar Indonesia per Mei 2026 berdasarkan data Gaikindo yang kami himpun. Angka itu belum termasuk elektrifikasi penuh karena hybrid juga dihitung. Tapi ada satu fenomena yang jarang dibahas dalam satu headline: GIIAS 2026 akan jadi debut simultan lima merek pure electric vehicle, sesuatu yang tidak pernah terjadi dalam sejarah pameran otomotif Tanah Air.

Lima merek yang dimaksud: Leapmotor, BAW, Changan, iCar, dan Farizon. Keenamnya dalam berbagai tahap kesiapan, tapi semua membawa DNA listrik dan ambisi untuk mengisi celah yang ditinggalkan merek-merek mainstream yang masih lambat elektrifikasi. Farizon Auto sendiri sudah lebih dulu hadir di GIICOMVEC 2026 dengan SV van listrik Rp 698 juta, membuktikan bahwa grup Geely tidak main-main dengan ekspansi elektrifikasi di Indonesia.

Enam merek baru, siapa mereka

Berikut profil singkat enam pendatang baru di GIIAS 2026:

  • Leapmotor: SUV listrik B10 dengan partnership Stellantis, Indomobil sebagai importir, rencana produksi lokal di Purwakarta
  • BAW: Masuk di bawah grup BAIC, konsentrasi di EV komersial ringan
  • Changan: Merek dengan lineup cukup lengkap dari city car sampai SUV, beberapa sudah ditampilkan di IIMS 2026
  • iCar: Merek premium dari Chery, masuk segmen lebih tinggi dari Chery standar
  • Farizon: Vehikel niaga energi baru, fokus di segmen komersial, bukan passenger car
  • GAIC Aion: Sedang dalam persiapan masuk, beberapa media sebut termasuk di daftar

Dari keenamnya, empat pertama hampir pasti hadir. GAIC Aion masih dalam status konfirmasi. Tapi intip konsistensi yang muncul: semua adalah merek China atau terkait China. Tidak ada pendatang dari Eropa, Jepang, atau Korea di kelompok ini. Changan sendiri sudah lebih dulu mengkonfirmasi tiga model baru untuk 2026 dalam strategi ekspansi mereka, jadi GIIAS 2026 bukan awal absolute tapi konfirmasi kelanjutan.

Mengapa lima sekaligus di 2026?

Beberapa faktor konvergen. Pertama, insentif pemerintah untuk kendaraan listrik sudah mulai aktif meskipun sering ditunda dan diubah skema-nya. Konsumen Indonesia mulai familiar dengan EV meskipun acceptance rate belum masif. Kedua, infrastruktur charging berkembang perlahan tapi pasti, dari 2.000 SPKLU awal 2025 menjadi hampir 5.000 per proyeksi kami.

Ketiga, dan ini yang paling menarik: merek-merek China sudah cukup percaya diri bahwa pasar Indonesia sudah cukup mature untuk EV murah. Leapmotor, Changan, BAW, dan iCar tidak datang sebagai eksperimen. Mereka datang karena ada kalkulasi bahwa ada ruang di Rp 200-400 jutaan yang belum diisi secara optimal.

Implikasi untuk konsumen yang sedang memilih mobil

Dari perspektif buyer, ini artinya pilihan di segmen EV akan melonjak drastis dalam 12-18 bulan ke depan. Sebelum GIIAS 2025, pilihan EV di bawah Rp 500 jutaan sangat terbatas. Sekarang, bahkan sebelum GIIAS 2026, sudah ada Wuling BinguoEV, BYD M3, dan berbagai varian dari merek yang sudah lebih dulu hadir. Setelah GIIAS 2026, konsumen akan menghadapi situasi di mana lima merek baru sekaligus masuk.

Ini bagus untuk kompetisi harga. Secara historis, pasar Indonesia tidak pernah efisien dalam segment elektrifikasi karena hanya sedikit pemain. Dengan lebih banyak entrant, tekanan pada harga dan fitur akan meningkat. Pertanyaannya tinggal: siapa yang akan bertahan setelah 2-3 tahun?

Yang perlu diwaspadai: aftersales dan spare part

Di sisi lain, ada risiko yang perlu diamati. Banyak Chinese brand yang masuk Indonesia dalam lima tahun terakhir akhirnya menghadapi tantangan di aftersales. Konsumen tidak hanya membeli mobil, tapi juga kepercayaan bahwa merek tersebut akan tetap ada dan menyediakan suku cadang dalam 5-10 tahun ke depan.

Leapmotor punya pendekatan berbeda lewat Indomobil, tapi untuk merek-merek lain seperti BAW dan iCar, jaringan purna jual mereka di Indonesia masih harus dibuktikan. Ini adalah variabel yang tidak terlihat di booth pameran tapi sangat menentukan loyalitas konsumen jangka panjang.

GIIAS 2026 bakal seru di depan, tapi cerita sebenarnya baru dimulai setelah harga diumumkan dan konsumen mulai membawa pulang unit mereka.

Editor-in-chief Bros & Roads. Nulis dari jalanan, bukan dari kursi kantor.