Skip to content
Menakar Kekuatan Ekspor Mobil Buatan Indonesia di Tengah Pergeseran Pasar GlobalBaterai LFP vs NMC untuk mobil listrik di iklim tropis IndonesiaMenelisik Syarat Garansi Baterai Seumur Hidup Mobil ListrikHonda Terlempar dari Tiga Besar, Brio Jadi Tulang Punggung 64 Persen PenjualanChina Ambil Headline, Toyota Ambil Untung dari Pasar Hybrid IndonesiaInfrastruktur SPKLU Indonesia Kalah dari Thailand dan ASEANGanti Warna Logo: Ketika Dealer Mobil Jepang Mulai Berpindah ke Merek ChinaPangsa Pasar Astra Turun ke 49%, Benarkah Dominasi Jepang di Indonesia Sudah Melemah?Menakar Kekuatan Ekspor Mobil Buatan Indonesia di Tengah Pergeseran Pasar GlobalBaterai LFP vs NMC untuk mobil listrik di iklim tropis IndonesiaMenelisik Syarat Garansi Baterai Seumur Hidup Mobil ListrikHonda Terlempar dari Tiga Besar, Brio Jadi Tulang Punggung 64 Persen PenjualanChina Ambil Headline, Toyota Ambil Untung dari Pasar Hybrid IndonesiaInfrastruktur SPKLU Indonesia Kalah dari Thailand dan ASEANGanti Warna Logo: Ketika Dealer Mobil Jepang Mulai Berpindah ke Merek ChinaPangsa Pasar Astra Turun ke 49%, Benarkah Dominasi Jepang di Indonesia Sudah Melemah?
Aksesoris

Aksesori EV wajib untuk pemilik mobil listrik: dari kabel portable sampai TPMS

Beli mobil listrik pertama? Ini daftar aksesori EV yang benar-benar wajib dimiliki pemilik kendaraan listrik di Indonesia, dari kabel charger darurat sampai TPMS.

Beli mobil listrik bukan selesai di SPK dan BPKB. Ada satu set aksesori yang, kalau kamu lewatkan, baru akan terasa betapa kamu membutuhkannya saat situasi sudah tidak ideal: baterai tinggal 5 persen di jalan tol, atau ban kempes di malam hari tanpa sensor peringatan yang kamu pasang. Ini bukan listicle soal aksesori EV “keren” yang oke buat foto, tapi panduan praktis aksesori EV yang benar-benar berguna bagi pemilik kendaraan listrik pertama di Indonesia.

Portable Type 2 charging cable: bukan opsional, ini darurat

Hampir semua EV yang dijual di Indonesia sudah menyertakan Type 2 charging cable dalam paket pembelian, kabel yang bisa dicolokkan ke stopkontak rumah biasa untuk mengisi daya secara lambat. Masalahnya, banyak pemilik EV baru yang menyimpan kabel ini di rumah karena berat dan “tidak akan diperlukan”.

Ini keputusan yang bisa berujung penyesalan. Portable Mode 2 cable adalah penyelamat saat kamu terjebak dalam situasi baterai hampir habis dan tidak ada SPKLU di sekitar, tapi ada stopkontak listrik biasa di gedung, rumah saudara, atau bahkan warung. Pengisian dengan Mode 2 memang lambat, bisa 8-12 jam untuk EV baterai besar, tapi dalam keadaan darurat, bahkan 2 jam pengisian sudah cukup memberikan jangkauan 30-50 km untuk mencapai SPKLU terdekat.

Simpan kabel ini di bagasi mobilmu, bukan di rumah. Ini pertama kali seseorang akan merasakan manfaatnya adalah ketika tidak dibawa.

Beli portable Type 2 charger di Tokopedia

TPMS aftermarket: lebih kritis untuk EV

Tire Pressure Monitoring System (TPMS) adalah aksesori yang disarankan untuk semua mobil, tapi untuk EV, kepentingannya lebih tinggi dari rata-rata. Ada dua alasan utama.

Pertama, baterai EV menambah bobot signifikan pada kendaraan, yang berarti beban pada ban lebih besar dari setara ICE-nya. Tekanan ban yang tidak ideal akan mempercepat keausan yang tidak merata dan, lebih penting, akan secara langsung mengurangi efisiensi dan range kendaraan. Tekanan ban berkurang 10 psi bisa memangkas range hingga 5-10 persen, angka yang sangat terasa saat range sudah menjadi kalkulasi harian.

Kedua, banyak EV yang dijual di Indonesia belum dilengkapi TPMS bawaan, terutama di varian entry-level. Aksesori TPMS aftermarket yang bisa dipasang di tutup pentil ban tersedia di kisaran Rp 150.000 sampai Rp 600.000 dan langsung terkoneksi ke smartphone. Kami sudah membahas panduan lengkap memilih TPMS aftermarket di artikel TPMS aftermarket untuk mobil Indonesia.

Dashcam dengan kamera depan dan belakang

Dashcam bukan aksesori EV eksklusif, tapi ada alasan spesifik mengapa pemilik EV perlu sangat memprioritaskannya: regenerative braking. EV dengan one-pedal driving akan melambat jauh lebih cepat dari ekspektasi pengemudi ICE di belakangnya. Ini meningkatkan risiko ditabrak dari belakang, terutama oleh pengemudi yang tidak terbiasa dengan karakteristik pengereman regeneratif.

Dashcam dua kamera, depan dan belakang, memberikan bukti yang jelas jika terjadi insiden. Di era ketika klaim asuransi semakin ketat, rekaman dashcam adalah argumen yang sulit dibantah. Untuk panduan memilih dashcam yang sesuai anggaran, artikel dashcam untuk mobil sudah kami siapkan secara lengkap.

Car body cover untuk parkir luar ruangan

Ini aksesori yang sering dianggap tidak penting sampai cat mulai terlihat buram setelah setahun. EV generasi pertama, terutama yang menggunakan cat solid tanpa metallic flakes, kadang lebih rentan terhadap degradasi UV dibanding sedan konvensional bercat tebal.

Tapi manfaat body cover untuk EV sebenarnya melampaui soal estetika cat. Panas adalah salah satu musuh terbesar baterai lithium-ion. Paparan sinar matahari langsung dalam waktu panjang, apalagi di iklim tropis seperti Indonesia, bisa meningkatkan suhu kabin dan eksterior kendaraan secara signifikan, yang pada akhirnya berimbas pada suhu baterai. Dalam jangka panjang, baterai yang sering terekspos panas ekstrem mengalami degradasi kapasitas lebih cepat dari yang diparkir di tempat teduh atau tertutup.

Kalau kondisi idealnya adalah parkir di garasi atau tempat teduh, body cover adalah solusi terbaik kedua untuk yang terpaksa memarkir EV-nya di luar ruangan dalam waktu lama, misalnya di depan rumah, di area parkir kantor tanpa atap, atau selama perjalanan panjang di destinasi yang minim fasilitas parkir tertutup. Cover tidak akan menurunkan suhu baterai ke kondisi optimal, tapi berkontribusi mengurangi beban thermal yang tidak perlu.

Body cover berkualitas yang anti-UV dan breathable tersedia dalam kisaran Rp 200.000 sampai Rp 1 jutaan tergantung merek dan material, seperti merek aftermarket yang kami temukan di Tokopedia. Pastikan memilih yang berbahan kain, bukan plastik, untuk menghindari goresan akibat gesekan saat angin kencang. Ukuran harus presisi untuk model spesifik mobilmu, bukan cover universal yang longgar dan tidak memberikan perlindungan optimal.

Tips keamanan home charging

Sebelum memasang wallbox atau menggunakan charging cable di rumah, pastikan instalasi listrik rumahmu sudah memadai. Idealnya, sirkuit khusus minimal 16A dengan kabel minimal 2,5 mm² untuk Type 2 charging, dan 32A untuk wallbox AC. Jangan gunakan stopkontak yang sudah kendur atau terasa panas saat disentuh. Konsultasikan dengan teknisi listrik bersertifikat sebelum mulai charging di rumah secara rutin.

Untuk panduan lengkap soal home charging versus penggunaan SPKLU, termasuk kalkulasi biaya nyata per kWh di rumah versus di charging station komersial, kami sudah menyusunnya di artikel home charging EV Indonesia: biaya sebenarnya. Ini bacaan wajib sebelum kamu memutuskan setup charging di rumah.

Yang sering dilupakan: inflator ban portable

Satu aksesori EV (dan mobil konvensional lain) yang sering dilupakan: portable tire inflator atau kompresor ban. EV yang lebih berat dari setara ICE-nya punya risiko lebih tinggi mengalami deflasi ban, dan banyak EV tidak dilengkapi ban cadangan penuh, melainkan foam sealant atau run-flat tires. Kompresor portabel kecil yang bisa disimpan di bagasi adalah investasi Rp 200-400 ribu yang mungkin tidak akan kamu gunakan bertahun-tahun, tapi akan sangat kamu syukuri ketika saatnya tiba. Pastikan memilih yang mendukung tekanan ban hingga 50 psi atau lebih, karena banyak EV berbobot besar membutuhkan tekanan ban di atas rata-rata kendaraan konvensional. Panduan lebih lengkap soal perawatan ban secara umum bisa ditemukan di panduan merawat ban mobil dari Carmudi Indonesia, dan untuk memahami lebih dalam soal spesifikasi ban EV yang direkomendasikan, tips perawatan kendaraan dari Detik Oto bisa jadi referensi dasar yang solid.

Editor-in-chief Bros & Roads. Nulis dari jalanan, bukan dari kursi kantor.