Sebuah kendaraan listrik Honda baru muncul dalam database NJKB (Nilai Jual Kendaraan Bermotor) Indonesia dengan nilai Rp 257 juta. Kode registrasinya: JG6 A EV ZZE. Bersamaan dengan itu, foto sebuah kendaraan listrik Honda berbalut kamuflase beredar viral dari sesi pengujian di jalan Indonesia. Dan Honda sendiri sudah mengkonfirmasi bahwa satu model BEV baru akan hadir di Indonesia sepanjang 2026. Dua ditambah dua, dan dari yang kami amati, kandidat terkuatnya adalah Honda Super One EV.

Honda Super One EV, apa yang sudah terkonfirmasi?
Honda Super One adalah city car listrik yang pertama kali diperkenalkan sebagai prototype dan mobil konsep di Japan Mobility Show 2025. Posisinya ada di segmen A, dengan dimensi yang diklaim setara Honda Brio, menjadikannya lebih kompak dari Jazz atau HR-V. Dari informasi yang tersedia di berbagai sumber, Honda Super One dirancang sebagai EV perkotaan dengan fast charging yang bisa membawa baterai dari 20% ke 80% dalam sekitar 30 menit.
Yang membuat topik ini relevan sekarang adalah pendaftaran ke sistem NJKB tersebut. Registrasi kendaraan listrik Honda dengan NJKB Rp 257 juta adalah langkah administratif yang biasanya mendahului peluncuran resmi. Artinya, kalau ini memang Honda Super One, Honda sudah jauh lebih serius dari sekadar “masih dikaji.”
NJKB (Nilai Jual Kendaraan Bermotor) adalah nilai yang ditetapkan pemerintah sebagai basis perhitungan pajak kendaraan, bukan harga OTR yang akan kamu bayar di dealer. Harga OTR bisa signifikan lebih tinggi dari NJKB karena sudah termasuk PPnBM, PPN, bea balik nama, dan margin dealer. Untuk EV, komponen pajak ini bervariasi tergantung apakah kendaraan memenuhi syarat insentif TKDN atau tidak.
| Segmen | City car listrik (Segment A) |
| Dimensi (estimasi) | Setara Honda Brio |
| Charging DC (20–80%) | ~30 menit |
| NJKB terdaftar | Rp 257 juta |
| Proyeksi harga OTR | Rp 280–330 juta (belum dikonfirmasi) |
| Status Indonesia | Belum diumumkan resmi |
Perlu dicatat bahwa Honda belum secara resmi mengkonfirmasi bahwa kendaraan yang terdaftar di NJKB tersebut adalah Super One. Beberapa media menyebut kemungkinan nama Indonesia yang berbeda, termasuk “Brio EV,” mengacu pada kemungkinan Honda menggunakan nama yang lebih familiar di pasar lokal. Tapi apapun namanya, kendaraan itu tampaknya nyata dan sudah dalam proses.
Kalau harga OTR-nya Rp 280-330 juta, ini akan sangat berbeda
Ini yang membuat Honda Super One EV menarik secara strategis. Dengan NJKB Rp 257 juta, proyeksi harga OTR yang wajar ada di kisaran Rp 280-330 juta tergantung struktur pajak dan apakah kendaraan ini memenuhi syarat insentif EV. Di angka itu, Honda Super One akan menjadi EV Honda yang paling terjangkau, dan akan memasuki segmen yang sebelumnya hampir sepenuhnya diisi oleh brand China.
Untuk perbandingan: Wuling Air EV Lite ada di sekitar Rp 230 juta, Changan Lumin di Rp 178 juta, BYD Atto 1 di Rp 299 juta. Honda Super One di Rp 280-330 juta akan bersaing langsung dengan BYD Atto 1, dengan proposisi nilai yang berbeda: nama Honda, jaringan servis yang sudah tersebar luas, dan kepercayaan konsumen yang dibangun bertahun-tahun.
Kenapa Honda perlu bergerak cepat di segmen ini
Honda masuk ke ekosistem EV Indonesia lebih lambat dari beberapa kompetitor. Di segmen hybrid, Honda Prelude Hybrid sudah ada dan menjadi sinyal keseriusan di sisi yang lebih premium. Tapi untuk volume EV yang menyentuh konsumen lebih luas, Honda belum punya jawaban konkret di pasar Indonesia.
Di sisi lain, peta insentif sedang berubah. Insentif CBU EV sudah berakhir, dan 15 pabrikan memilih bangun pabrik lokal sebagai respons. Kalau Honda ingin masuk dengan harga kompetitif, mereka juga perlu menyelesaikan persoalan TKDN. Apakah Super One akan diproduksi lokal atau masuk sebagai CBU adalah pertanyaan yang langsung berdampak pada berapa harganya nanti.
Yang juga menarik untuk diperhatikan: latar belakang Presdir baru Honda Indonesia, Masanao Kataoka, adalah product planning. Keputusan soal kapan dan bagaimana Super One masuk Indonesia kemungkinan besar sudah ada di meja diskusi sejak sebelum ia resmi menjabat.
Dari yang kami kumpulkan berdasarkan data yang tersedia, Honda sudah melangkah lebih jauh dari sekadar rencana untuk EV pertama mereka di Indonesia. Spy shot, registrasi NJKB, dan konfirmasi resmi soal 1 BEV di 2026 semuanya mengarah ke satu kesimpulan: Super One, atau apapun namanya nanti, tinggal menunggu momen pengumuman.
Soal apakah harganya akan cukup kompetitif untuk menantang brand China yang sudah duluan di segmen ini, kita baru bisa tahu setelah angka resminya keluar. Tapi untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, ada alasan nyata untuk menantikan sebuah Honda baru dengan kegembiraan yang bukan hanya soal loyalitas brand.

