Skip to content
Akselerasi BYD di Indonesia, Mengapa City Car Listrik Mampu Menggeser Peta PasarGeliat Pasar Mobil Pikap Indonesia, Tulang Punggung Logistik yang Tembus 89 Ribu UnitMembaca Arah Regulasi TKDN Mobil Listrik dan Peta Industri Komponen LokalJalan Terjal Kredit Mobil Baru, Saat Multifinance Mengetatkan Keran PembiayaanMenakar Kekuatan Ekspor Mobil Buatan Indonesia di Tengah Pergeseran Pasar GlobalBaterai LFP vs NMC untuk mobil listrik di iklim tropis IndonesiaMenelisik Syarat Garansi Baterai Seumur Hidup Mobil ListrikHonda Terlempar dari Tiga Besar, Brio Jadi Tulang Punggung 64 Persen PenjualanAkselerasi BYD di Indonesia, Mengapa City Car Listrik Mampu Menggeser Peta PasarGeliat Pasar Mobil Pikap Indonesia, Tulang Punggung Logistik yang Tembus 89 Ribu UnitMembaca Arah Regulasi TKDN Mobil Listrik dan Peta Industri Komponen LokalJalan Terjal Kredit Mobil Baru, Saat Multifinance Mengetatkan Keran PembiayaanMenakar Kekuatan Ekspor Mobil Buatan Indonesia di Tengah Pergeseran Pasar GlobalBaterai LFP vs NMC untuk mobil listrik di iklim tropis IndonesiaMenelisik Syarat Garansi Baterai Seumur Hidup Mobil ListrikHonda Terlempar dari Tiga Besar, Brio Jadi Tulang Punggung 64 Persen Penjualan
Berita

Impor mobil Indonesia ambles 46% di Mei 2026: Toyota masih mendominasi, BYD merosot karena CKD

Impor mobil CBU Indonesia ambles 46,4% di Mei 2026 jadi 4.548 unit. Toyota masih dominan dengan 50,6% pangsa, tapi impornya turun drastis. Analisis lengkap data Gaikindo.

Impor mobil CBU (completely built up) ke Indonesia ambles 46,4% di Mei 2026. Totalnya cuma 4.548 unit, turun drastis dari 8.493 unit bulan sebelumnya. Data Gaikindo yang dirilis Selasa ini langsung bikin angka impor Mei jadi yang terendah kedua di 2026, cuma kalah dari Januari yang 5.003 unit.

Seperti dilansir VIVA Otomotif, penurunan ini sekaligus memutus tren positif yang sempat terbangun sejak awal tahun. Impor bulanan naik bertahap dari 5.003 unit di Januari ke puncak 8.493 unit di April, lalu ambruk di Mei. Cuma dalam satu bulan, volumenya hampir separuhnya hilang.

Toyota masih nomor satu, tapi impornya juga turun drastis

Sepanjang Januari hingga Mei 2026, total impor mobil Indonesia mencapai 29.928 unit. Toyota masih mendominasi dengan 15.135 unit atau 50,6% pangsa pasar. Tapi impor Toyota di Mei 2026 cuma 1.948 unit, turun lebih dari setengah dibanding April yang mencapai 4.206 unit.

Penurunan ini sejalan dengan strategi Toyota yang makin agresif merakit kendaraan secara lokal di Indonesia. Salah satunya lewat Toyota bZ4X yang kini sudah diproduksi CKD di Karawang dengan harga lebih kompetitif ketimbang versi impor sebelumnya.

Suzuki dan Mitsubishi bertahan, China mulai unjuk gigi

Suzuki menempati posisi kedua dengan 3.520 unit atau 11,8% pangsa pasar. Mitsubishi Motors menyusul dengan 2.617 unit atau 8,7%. Keduanya relatif stabil dan masih mengandalkan model-model impor untuk segmen tertentu.

Di kelompok brand pendatang baru, VinFast mencatat 1.360 unit (4,5%), GWM 1.271 unit (4,2%), dan FAW 614 unit. Angkanya masih kecil dibanding pemain lama, tapi trennya naik. VinFast misalnya, belum genap setahun di Indonesia. Mazda juga impresif dengan 1.351 unit, nyaris setara VinFast meski tanpa gebrakan besar di segmen EV.

BYD hanya mengimpor 358 unit sepanjang lima bulan pertama 2026. Angka ini kecil banget dibanding penetrasi ritel mereka yang tinggi di Indonesia. Tapi ini wajar karena BYD sudah memulai produksi CKD di Subang, Jawa Barat, lewat pabrik yang sebelumnya milik Hyundai. Begitu produksi lokal jalan, kebutuhan impor CBU otomatis turun.

Segmen premium: sepi peminat

Mobil-mobil premium tetap masuk, tapi volumenya tipis. Lexus memimpin dengan 392 unit, disusul Mercedes-Benz CV 180 unit, BMW 54 unit, MINI 55 unit, Audi 9 unit, dan Mercedes-Benz PC cuma 25 unit. Pasar mobil mewah di Indonesia memang terbatas, dan tren elektrifikasi yang masih wait and see bikin situasi makin berat buat segmen premium.

Aion, brand EV asal China, baru mencatat 77 unit. Sementara nama-nama seperti Geely, Xpeng, Maxus, dan Denza belum menunjukkan realisasi impor hingga Mei 2026.

Apa arti penurunan impor ini?

Dari data ini ada dua sinyal yang cukup jelas. Pertama, tren perpindahan dari CBU ke CKD makin nyata. Beberapa brand seperti BYD dan Toyota sudah memulai produksi lokal untuk model-model yang sebelumnya diimpor. Kedua, permintaan pasar mungkin mulai melambat atau setidaknya bergeser ke segmen yang lebih terjangkau dan sudah dirakit lokal.

Kalau impor terus menurun, artinya pabrikan beneran serius produksi di dalam negeri. Tapi kalau ini cuma efek musiman setelah stockpiling di April, rebound di Juni atau Juli sangat mungkin. Kita lihat aja bulan depan.

Editor-in-chief Bros & Roads. Nulis dari jalanan, bukan dari kursi kantor.