Ketika seseorang memutuskan membeli mobil listrik, yang paling sering masuk ke dalam kalkulasi adalah harga beli, biaya pengisian daya, dan pajak kendaraan. Yang sering terlewat adalah asuransi. Padahal, premi asuransi mobil listrik bisa 20–30 persen lebih mahal dari kendaraan ICE sekelas, dan alasannya langsung berkaitan dengan komponen yang membuat EV jadi EV: baterainya.
Kenapa premi asuransi mobil listrik lebih tinggi
Baterai adalah komponen termahal di mobil listrik, dengan estimasi biaya yang bisa mencapai 40–60 persen dari total nilai kendaraan. Ketika kamu mengasuransikan EV, perusahaan asuransi tidak hanya menanggung risiko bodi dan kerangka seperti pada mobil konvensional, tapi juga menanggung komponen yang nilainya sangat besar dan perbaikannya membutuhkan keahlian serta peralatan khusus.
Faktor kedua adalah ketersediaan bengkel rekanan. Jaringan bengkel resmi yang mampu menangani kerusakan sistem baterai atau kelistrikan EV di Indonesia masih terbatas dibandingkan bengkel mobil konvensional. Ini meningkatkan biaya klaim karena pilihan bengkel yang bisa dituju lebih sedikit dan kompetisi harga layananannya pun lebih rendah. Tidak semua bengkel rekanan asuransi konvensional sudah dilengkapi untuk menangani EV secara menyeluruh.
Berapa premi yang perlu disiapkan
Berdasarkan data yang dikumpulkan Kompas Otomotif dalam estimasi premi asuransi mobil listrik, untuk kelas EV entry-level seperti Wuling Air EV di kisaran harga Rp 184–195 juta, premi all-risk per tahun berkisar antara Rp 4,9 juta hingga Rp 5,7 juta. Untuk premi TLO (total loss only), angkanya lebih rendah di sekitar Rp 750.000–900.000 per tahun.
Ini mungkin terasa wajar untuk EV di bawah Rp 200 juta. Tapi perlu diingat bahwa semakin mahal harga kendaraan, premi naik secara proporsional. EV di kisaran Rp 400–600 juta yang kini cukup ramai di pasar Indonesia bisa menuntut premi all-risk yang dua kali lipat dari angka di atas, atau bahkan lebih, tergantung profil risiko, wilayah, dan provider yang dipilih.
Jika diakumulasi selama 5 tahun masa kepemilikan, ini bukan angka kecil. Dan seharusnya masuk ke dalam perhitungan total cost of ownership yang sama pentingnya dengan biaya servis EV dibandingkan kendaraan ICE.
Coverage yang perlu dicek secara spesifik untuk EV
Tidak semua polis asuransi kendaraan listrik memberikan perlindungan yang setara. Ada beberapa hal spesifik yang perlu ditanyakan sebelum memilih provider:
- Coverage baterai: apakah kerusakan baterai masuk dalam perlindungan all-risk? Beberapa polis mengecualikan baterai atau memberikan coverage terbatas karena nilai penggantiannya yang sangat tinggi.
- Kerusakan akibat banjir atau air: ini krusial di Indonesia. Pastikan polis mencakup kerusakan pada sistem kelistrikan akibat genangan, karena banjir adalah risiko nyata di banyak kota besar.
- Portable charging reimbursement: beberapa provider sudah menawarkan fitur ini, yang menanggung biaya pengisian darurat jika kendaraan kehabisan daya di jalan.
- Jaringan bengkel rekanan: cek apakah bengkel resmi brand EV kamu termasuk dalam daftar rekanan. Untuk brand seperti BYD, Hyundai, dan Wuling, beberapa provider sudah menjalin kerja sama resmi.
1. Apakah baterai dan komponen EV tercakup dalam perlindungan all-risk?
2. Bagaimana prosedur klaim untuk kerusakan pada sistem kelistrikan?
3. Apakah bengkel rekanan yang tersedia bisa menangani brand EV kamu secara spesifik?
4. Apakah ada pengecualian untuk kerusakan akibat banjir pada sistem baterai?
5. Apakah nilai baterai sudah diperhitungkan secara terpisah dalam penentuan premi?
Provider asuransi mobil listrik yang layak dicek
Dari yang kami amati, beberapa provider asuransi sudah mengembangkan produk khusus untuk kendaraan listrik di Indonesia. Garda Oto memiliki jaringan bengkel rekanan yang cukup luas, termasuk bengkel resmi beberapa brand mobil listrik populer. Zurich saat ini dikenal menawarkan produk yang paling komprehensif secara teknis dengan fitur portable charging reimbursement, meski preminya berada di segmen yang lebih tinggi. Untuk perbandingan yang lebih lengkap, L&G Risk menyediakan perbandingan terperinci antar provider asuransi EV di Indonesia yang bisa dijadikan titik awal riset.
Yang perlu diingat: asuransi bukan pos biaya yang bisa dioptimasi hanya dengan memilih premi terendah. Untuk aset senilai ratusan juta rupiah dengan komponen mahal yang tidak bisa diganti di sembarang bengkel, coverage yang tepat jauh lebih penting dari selisih premi yang relatif kecil. Ini berlaku lebih dari sebelumnya ketika kamu juga perlu mempertimbangkan depresiasi nilai jual kembali EV di pasar Indonesia yang masih menjadi variabel besar dalam kalkulasi kepemilikan jangka panjang.

