Dulu pertanyaan ini terdengar absurd. Mungkin brand China bisa saingan sama brand Jepang di Indonesia? Sekarang kita semua tahu data riilnya mulai berbicara beda. Berdasarkan data Gaikindo yang kami olah dari Bisnis Otomotif dan Kompas Otomotif, jawabannya mulai kelihatan. Bukan kemenangan penuh. Tapi angkanya susah diabaikan.
BYD hampir salip Honda, Jaecoo masuk 7 besar
Yang paling bikin melongo: BYD. Produsen China itu mencatat wholesales 17.993 unit selama Januari sampai Mei 2026. Cuma beda 278 unit dari Honda di 18.271 unit. Dengan laju pertumbuhan BYD yang kayak sekarang, bukan mustahil di data bulan depan posisi mereka udah bertukar.
Jaecoo, pendatang baru yang baru debut di Indonesia paruh kedua 2025, langsung tembus posisi tujuh besar dengan 14.284 unit. Dan bagian yang bikin gue geleng-geleng: hampir semua angka itu dari satu model doang. Jaecoo J5 EV. Mobil listrik murni. Artinya pasar EV Indonesia, meski proporsinya masih kecil, udah bisa ngerek satu merek ke jajaran elite.
Brand Jepang secara agregat masih perkasa. Toyota 111.119 unit, Daihatsu 59.420 unit, Suzuki 30.262 unit, Mitsubishi 28.445 unit. Tapi yang perlu dicermati arahnya. Pertumbuhan brand China jauh lebih cepat. Brand Jepang? Cenderung stagnan atau single digit.
Pasar nasional tumbuh, tapi ketimpangan makin terasa
Pasar nasional Januari-Mei 2026: 359.015 unit wholesales, naik 12,8 persen year-on-year. Gaikindo target 850.000 unit buat 2026, naik 5,4 persen dari tahun lalu. Tapi pertumbuhannya tidak merata.
Mei 2026 spesifik: 69.219 unit, naik 14 persen YoY, tapi turun 14,3 persen dari April. Penurunan bulanan wajar karena efek Lebaran. Tapi yang bikin beda: untuk pertama kalinya ada mobil listrik murni tembus lima besar penjualan model nasional.
Jaecoo J5 EV: dari nol ke lima besar dalam 6 bulan
Jaecoo J5 EV catat penjualan 2.943 unit di Mei 2026. Cukup buat ngegeser model-model mapan kayak Toyota Avanza, Honda Brio, dan Daihatsu Sigra. Sinyal yang lumayan jelas: EV bukan lagi segmen pinggiran. Kalau harganya pas, orang Indonesia pindah cukup cepat.
Bukan berarti brand Jepang besok punah. Toyota Kijang Innova masih puncak dengan 6.658 unit, hampir dua kali lipat Jaecoo J5. Tapi data ini nunjukin brand China sekarang bukan sekadar datang lalu pergi kayak era Chery di awal 2000-an. Mereka datang dengan produk, harga, dan strategi yang beda.
Apa artinya buat konsumen?
Persaingan Jepang vs China ini enaknya buat konsumen. Brand Jepang terpaksa nurunin harga, nambah fitur, dan ngebut adopsi hybrid sekaligus EV. Contoh paling nyata strategi hybrid agresif Toyota dan Honda yang kami bahas di artikel elektrifikasi yang udah kuasai 26 persen pasar.
Sementara brand China terus dorong batas harga EV ke bawah. Jaecoo J5 EV mulai Rp 279,9 juta. BYD Dolphin dan Atto 3 juga kompetitif. Ditambah insentif PPN DTP 100 persen buat EV baterai NMC yang baru berlaku, persaingan bakal makin sengit di semester kedua 2026.
Satu catatan: jangkauan after sales masih jadi kelemahan brand China. Jaecoo dan BYD masih ngebangun jaringan servis. Toyota dan Honda udah punya ribuan bengkel resmi. Buat yang tinggal di luar Jawa, pertimbangan purna jual tetap engak bisa diabaikan.

