BYD wholesales anjlok 80,6 persen di Mei 2026. Angkanya cuma 895 unit. Bandingkan dengan Januari yang tembus 4.879 unit atau April yang 4.625 unit. Dalam sebulan, posisinya terlempar dari 10 besar nasional. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat ini sebagai rekor terendah BYD sejak masuk Indonesia pertengahan 2024.
Retail sales ceritanya beda tipis. Penjualan dealer ke konsumen di Mei masih 2.892 unit, turun 53,9 persen dari 6.274 unit di April. Tapi secara year-on-year, retail sales BYD masih tumbuh 9,6 persen. Artinya permintaan konsumen sebenarnya masih ada. Yang tersendat di sisi distribusi.
Head of Public & Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther T Panjaitan, akhirnya angkat bicara di Jakarta, Jumat (12/6/2026). Menurutnya ini soal transisi sumber produksi, bukan lesunya permintaan.
Transisi dari impor ke produksi lokal di Subang
“Itu adalah dampak dari transisi production source kita. Sebelumnya kita masih berbasis impor, wholesales itu bagian dari penjualan principal kepada dealer,” ujar Luther, seperti dilansir detikOto.
BYD saat ini beralih dari completely built up (CBU/impor utuh) ke completely knocked down (CKD/rakitan lokal). Pabrik mereka di Subang, yang mulai operasi kuartal pertama 2026 dengan kapasitas 150.000 unit per tahun, jadi pusat strategi ini. Bahasa gampangnya: mereka lagi benahi ulang rantai pasok, dari ngirim mobil jadi dari China ke ngatur produksi di dalam negeri. Pasti ada shock sementara.
“Kita membenahi sistem supply dengan transisi dari barang CBU ke produksi lokal. Sehingga ada sedikit shock di sisi angka, tapi itu akan normal kembali di bulan ini,” ungkap Luther optimis.
Retail sales masih lebih tinggi dari wholesales
Nah, ini yang menarik. Wholesales BYD Mei cuma 895 unit, tapi retail sales masih 2.892 unit. Artinya dealer masih jualan dari stok yang udah ada sebelumnya. Data Mounture mencatat retail sales BYD secara year-on-year masih tumbuh 9,6 persen dibanding Mei 2025. Jadi pasar sebenarnya belum kerasa dampak transisi ini, setidaknya belum di level konsumen akhir.
Tapi ini masalah timing. Kalau gap antara wholesales dan retail sales terus melebar, dalam 1-2 bulan stok dealer bakal habis dan konsumen mulai nunggu unit.
Penjualan per model: Sealion tetap teratas
Rincian per model dari data Gaikindo:
- BYD Sealion: 258 unit
- BYD M6: 197 unit
- BYD Atto 3: 174 unit
- BYD E6: 129 unit
- BYD Dolphin: 101 unit
- BYD Atto 1: 26 unit
- BYD Seal: 10 unit
BYD M6 yang biasanya jadi tulang punggung penjualan malah gagal masuk 10 besar mobil listrik nasional. BYD Atto 1 yang baru debut di IIMS 2026 dengan harga under Rp 200 jutaan cuma 26 unit. Luther lagi-lagi bilang ini soal transisi, bukan indikasi lemahnya minat pasar. “Ya memang itu dampak dari transisi itu. Mungkin itu bisa dibaca kenapa bisa ada shock pengurangan yang cukup signifikan tersebut,” katanya.
Apa artinya buat pasar EV Indonesia?
Penurunan BYD di Mei ini bukan soal matinya permintaan EV. Ini soal logistik dan industrialisasi. Tiap kali brand beralih dari impor ke produksi lokal, pasti ada gangguan distribusi. Hyundai juga ngalamin hal serupa waktu pertama kali produksi Ioniq 5 di Cikarang. Wuling pernah juga dengan Air ev-nya.
Bedanya, BYD scale-nya lebih besar dan transisinya terjadi di tengah persaingan yang makin ketat. Jaecoo dan Geely mulai masuk 10 besar. Brand China lain mulai gencar. Celah yang ditinggalkan BYD di Mei ini nggak bakal kosong lama.
Yang perlu diikuti adalah realisasi di Juni 2026. BYD janji distribusi bakal normal lagi. Kalau balik ke 4.000+ unit, penurunan Mei cuma noise teknis. Tapi kalau masih di bawah 2.000 unit, itu tanda ada masalah yang lebih struktural.
Buat perspektif lebih luas soal perebutan pangsa pasar antara brand China dan Jepang di Indonesia, baca analisis kami di brand China vs Jepang: data penjualan Mei 2026 sebagai titik balik.

