BYD tidak main-main soal ekspansi ke segmen premium. Lewat sub-brand Denza, mereka kini bersiap membawa Denza B5 ke Indonesia, sebuah SUV PHEV berbasis platform body-on-frame yang klaimnya bisa menempuh hampir 1.000 kilometer dalam sekali pengisian penuh. Estimasi harganya ada di kisaran Rp 1,2 miliar hingga Rp 1,5 miliar, dengan booking fee Rp 50 juta yang sudah bisa dilakukan. Rilis resmi dijadwalkan pada semester kedua 2026, kemungkinan besar bersamaan dengan atau sesaat setelah GIIAS 2026.
| Estimasi Harga | Rp 1,2–1,5 miliar (belum resmi) |
| Mesin | 1.5L Turbo + 2 motor listrik (AWD) |
| Tenaga sistem | 425 kW |
| Torsi sistem | 760 Nm |
| Akselerasi 0–100 km/jam | 4,8 detik |
| Baterai | 31,8 kWh (BYD Blade) |
| Electric range (CLTC) | 90–125 km |
| Total jarak klaim | 975 km (baterai + tangki penuh) |
| Pengisian listrik | Sekitar 16 menit |
| Platform | DMO (Dual Mode Off-road) |
| Kemampuan wading | 790 mm |
Mengapa BYD butuh brand Denza untuk masuk segmen premium?
Denza adalah sub-brand premium BYD yang mulanya lahir dari joint venture antara BYD dan Mercedes-Benz. Meski kini sepenuhnya dimiliki BYD, nama Denza tetap dipertahankan karena membawa satu hal yang sulit dibangun dari nol: persepsi kemewahan. Brand ini diposisikan seperti Lexus-nya Toyota, atau Genesis-nya Hyundai: produk premium yang tidak mau disandingkan langsung dengan lini massal perusahaan induknya.
Untuk Indonesia, strategi ini relevan. Pembeli di segmen Rp 1 miliar ke atas bukan hanya membeli kendaraan, tapi juga membeli cerita yang mereka akan sampaikan ke orang lain. “Saya pakai Denza B5” terdengar berbeda dari “saya pakai BYD Atto 3”, meskipun keduanya datang dari perusahaan yang sama.
Spesifikasi yang terdengar hampir tidak masuk akal
Angka-angka yang dibawa Denza B5 memang tidak tanggung-tanggung. Kombinasi mesin bensin turbo 1.5L dengan dua motor listrik menghasilkan tenaga sistem 425 kW dan torsi 760 Nm. Akselerasi 0-100 km/jam dalam 4,8 detik adalah angka yang lebih cepat dari hampir semua SUV konvensional di kelasnya, bahkan setara dengan beberapa mobil sport.
Yang lebih mengesankan adalah klaim total range 975 km dalam kondisi baterai dan tangki bensin penuh. Baterai 31,8 kWh berbasis teknologi BYD Blade yang sudah terbukti keandalan dan keamanannya memberikan jangkauan listrik murni 90-125 km, cukup untuk komuting harian tanpa perlu menyentuh bensin sama sekali. Untuk perjalanan jauh, mesin bensin mengambil alih, menjadikan Denza B5 salah satu PHEV dengan argumen praktis terkuat di pasarnya.
Platform DMO (Dual Mode Off-road) yang menjadi fondasinya juga menarik untuk dicermati. Ini adalah platform berbasis body-on-frame yang secara inheren lebih tangguh dibanding kebanyakan SUV monokok, dengan sudut pendakian 39 derajat, sudut penurunan 35 derajat, dan kemampuan menerjang genangan air hingga kedalaman 790 mm.
Di segmen PHEV premium, siapa pesaingnya?
Dengan estimasi harga Rp 1,2-1,5 miliar, Denza B5 akan berhadapan dengan beberapa nama besar. Di segmen PHEV yang lebih terjangkau, ada Jaecoo J7 SHS PHEV di Rp 499,9 juta yang bermain jauh lebih agresif dari sisi harga. Di atas segmen Denza B5, ada berbagai SUV hybrid premium dari brand Jepang dan Eropa yang sudah memiliki ekosistem aftersales yang matang.
Posisi Denza B5 berada di celah yang menarik: terlalu mahal untuk pembeli yang hanya ingin PHEV fungsional, tapi menawarkan proposisi teknologi yang lebih canggih dari banyak pilihan di rentang harga yang sama.
Harga Denza B5 yang beredar saat ini masih bersifat estimasi dari distributor, bukan harga resmi. Angka Rp 1,2–1,5 miliar dikutip dari beberapa media otomotif nasional berdasarkan informasi dari sales representative BYD Indonesia. Harga resmi dan spesifikasi final untuk pasar Indonesia baru akan diumumkan menjelang atau saat rilis semester kedua 2026.
Informasi terkini soal timeline rilis dan konfirmasi penjualan Denza B5 di Indonesia bisa dipantau di laporan OtoDriver soal kepastian rilis Denza B5 semester kedua 2026.
Untuk yang penasaran soal lanskap PHEV di segmen lebih accessible, kami sudah mengulas Wuling Cortez Darion PHEV yang menawarkan MPV PHEV 7 bangku di Rp 439 juta, sebuah entry point yang sangat berbeda namun sama-sama menunjukkan arah pasar Indonesia ke depan.

