Harga Mobil Listrik Bekas Anjlok, Apakah Pasar EV Indonesia Sedang Krisis?
Pertengahan 2026, cerita manis elektrifikasi Indonesia seolah berjalan mulus. Penjualan mobil hybrid melonjak 47% di semester I. Total pasar otomotif nasional tembus 436.564 unit, naik 15,8% dibanding periode sama tahun lalu, menurut data Gaikindo. Gaikindo optimistis angka ini bakal memenuhi 51% target tahunan di level 850.000 unit.
Namun di balik gemuruh angka-angka itu, ada sinyal bahaya yang jarang dibahas. Di pasar sekunder, harga mobil listrik bekas justru ambruk parah. Wuling Air EV yang tiga tahun lalu dibeli Rp200 jutaan, kini diperdagangkan di kisaran Rp90-140 juta di balai lelang. Hyundai Ioniq 5 turun Rp300 jutaan dari harga barunya. BYD M6 seken kehilangan Rp50 juta hanya dalam hitungan minggu. Beberapa model bahkan sudah kehilangan lebih dari separuh nilainya.
Angka yang Membekas
Berdasarkan data OLXmobbi dan pantauan beberapa balai lelang besar seperti JBA dan IBID, tingkat depresiasi mobil listrik battery electric vehicle (BEV) di Indonesia berkisar 35-60% per tahun. Media Indonesia melaporkan bahwa angka ini jauh melampaui mobil konvensional yang rata-rata turun 10-15% per tahun, atau bahkan hybrid yang cenderung lebih stabil.
Berikut gambaran harga unit populer di pasar lelang awal 2026:
- Wuling Air EV (Std dan Long Range), tahun produksi 2022-2023: Rp90 juta-Rp140 juta. Dari harga baru OTR Rp214-Rp285 juta, ini artinya depresiasi 40-50%.
- Hyundai Ioniq 5, tahun produksi 2023: Rp425 juta-Rp475 juta. Turun dari harga baru yang sempat menyentuh Rp800 juta, artinya Rp300-an juta hilang dalam dua tahun.
- Chery Omoda E5, tahun produksi 2024-2025: Rp280 juta-Rp300 juta. Bandingkan dengan harga baru Rp438-Rp498 juta.
- Neta V, tahun produksi 2023-2024: masih di bawah Rp200 juta untuk unit yang dijual di lelang.
Secara keseluruhan, harga mobil listrik bekas anjlok hingga 50% dalam dua tahun. Satu unit yang dibeli seharga Rp700 juta, kini bisa didapat Rp350 jutaan di pasar lelang.
Dua Pemicu Utama
Menurut analisis pasar yang kami kumpulkan, ada dua faktor utama yang mendorong fenomena ini:
Kecemasan baterai. Komponen termahal dalam mobil listrik adalah baterai. State of Health (SOH) baterai yang menurun setelah beberapa tahun pakai berarti potensi biaya penggantian Rp200-300 juta menanti di depan mata. Pembeli mobil bekas secara natural ragu menanggung risiko itu tanpa jaminan kuat dari jaringan purna jual.
Kestabilan merek. Kasus beberapa merek China yang datang dan pergi di Indonesia memberikan trauma kolektif ke pasar. Mobil dari merek yang dilernya tutup atau layanan purna jualnya buruk mengalami kehancuran harga lebih dalam. Di bursa mobil Kemayoran, para pelaku pasar menyebut dukungan diler sebagai faktor penentu utama harga jual kembali.
Kesimpulan Aneh: Diskon adalah Musuh
Inilah ironi besar di pasar EV Indonesia. Diskon agresif dan perang harga di segmen mobil baru memang menarik perhatian konsumen. Tapi setiap kali harga mobil baru turun Rp20-50 juta, pemilik lama yang ingin menjual langsung menanggung rugi. Suplai unit bekas melimpah, permintaan di pasar sekunder belum terbentuk, dan harga jual anjlok.
Untuk konsumen yang berpikir jangka panjang, ini menimbulkan pertanyaan krusial: berapa total cost of ownership (TCO) sesungguhnya dari sebuah mobil listrik? Jika dalam tiga tahun kehilangan Rp100-200 juta dari nilai jual, penghematan bahan bakar dan biaya servis mungkin tidak cukup mengimbanginya.
Implikasi untuk Kebijakan Elektrifikasi
Depresiasi tajam di pasar sekunder menciptakan paradoks kebijakan. Pemerintah mendorong adopsi EV melalui insentif dan infrastruktur SPKLU. Tapi jika konsumen mengalami kerugian besar saat menjual mobil listrik mereka, word of mouth akan negatif dan justru menghambat adopsi di wave berikutnya.
Gaikindo sendiri pernah menyampaikan kekhawatiran serupa. Mereka menekankan bahwa kebijakan insentif tidak boleh hanya memihak satu teknologi saja, dan bahwa keberlanjutan pasar sekunder sama pentingnya dengan pertumbuhan penjualan awal.
Berbeda dengan BEV, mobil hybrid menunjukkan kurva depresiasi yang jauh lebih landai. Toyota Prius, Honda Civic RS Hybrid, atau Toyota Vios Hybrid cenderung mempertahankan nilai lebih baik. Alasannya: konsumen masih bisa menggunakan mesin bensin sebagai backup jika ada masalah pada sistem elektrifikasi. Kalau kamu bingung bedakan full hybrid dengan PHEV, perbedaannya terletak pada bagaimana powertrain elektrifikasi berinteraksi dengan mesin bensin.
Kesimpulan
Pasar EV Indonesia tengah berada di persimpangan yang kontradiktif. Penjualan baru melejit, tapi pasar sekundernya belum siap menjadi tempat yang aman untuk mobil listrik bekas. Baterai yang tidak bisa dijamin kondisinya, perang harga yang menggerus nilai, dan ketidakpastian dukungan purna jual membuat depresiasi BEV di Indonesia jauh lebih tajam dibanding pasar yang lebih matang.
Bagi kamu yang mempertimbangkan membeli mobil listrik baru, angka-angka ini layak dicatat. Harga diskon yang menggoda hari ini bisa jadi ancaman bagi nilai asetmu tiga tahun ke depan. Dan bagi regulator, ini jadi pengingat bahwa ekosistem EV yang sehat bukan cuma soal penjualan awal, tapi juga tentang keberlanjutan nilai di seluruh siklus hidup kendaraan.

