Skip to content
Menakar Kekuatan Ekspor Mobil Buatan Indonesia di Tengah Pergeseran Pasar GlobalBaterai LFP vs NMC untuk mobil listrik di iklim tropis IndonesiaMenelisik Syarat Garansi Baterai Seumur Hidup Mobil ListrikHonda Terlempar dari Tiga Besar, Brio Jadi Tulang Punggung 64 Persen PenjualanChina Ambil Headline, Toyota Ambil Untung dari Pasar Hybrid IndonesiaInfrastruktur SPKLU Indonesia Kalah dari Thailand dan ASEANGanti Warna Logo: Ketika Dealer Mobil Jepang Mulai Berpindah ke Merek ChinaPangsa Pasar Astra Turun ke 49%, Benarkah Dominasi Jepang di Indonesia Sudah Melemah?Menakar Kekuatan Ekspor Mobil Buatan Indonesia di Tengah Pergeseran Pasar GlobalBaterai LFP vs NMC untuk mobil listrik di iklim tropis IndonesiaMenelisik Syarat Garansi Baterai Seumur Hidup Mobil ListrikHonda Terlempar dari Tiga Besar, Brio Jadi Tulang Punggung 64 Persen PenjualanChina Ambil Headline, Toyota Ambil Untung dari Pasar Hybrid IndonesiaInfrastruktur SPKLU Indonesia Kalah dari Thailand dan ASEANGanti Warna Logo: Ketika Dealer Mobil Jepang Mulai Berpindah ke Merek ChinaPangsa Pasar Astra Turun ke 49%, Benarkah Dominasi Jepang di Indonesia Sudah Melemah?
Berita

Harga EV naik sampai Rp 100 juta di Maret 2026: penyebab dan dampaknya untuk calon pembeli

Harga EV naik di tahun 2026 hingga capai Rp 60–100 juta untuk sejumlah merek. Ini penyebabnya dan apa artinya kalau kamu masih mau beli EV.

Kalau kamu masih menunggu momen tepat untuk beli mobil listrik, ada kabar yang perlu kamu tahu: harga EV naik di per Maret 2026 bukanlah sebuah rumor, dan bukan cuma kenaikan kecil. Beberapa model naik puluhan juta, satu bahkan menembus Rp 100 juta. Ini bukan kesalahan brand — ini dampak langsung dari berakhirnya insentif pajak yang selama ini diam-diam menekan harga jual kendaraan listrik di Indonesia.

Kenaikan harga EV Maret 2026: siapa yang kena, berapa besar

Merek yang mencatatkan kenaikan paling signifikan di Maret 2026 adalah Xpeng X(— harganya melonjak hingga Rp 100 juta untuk beberapa varian. Ini bukan angka kecil untuk segmen EV yang sudah relatif mahal.

Chery menjadi merek paling banyak modelnya yang kena revisi harga. Chery E5 Pure naik Rp 10 juta menjadi Rp 379,9 juta, Chery E5 naik Rp 20 juta menjadi Rp 419,9 juta. Yang paling terasa: Chery J6 RWD kini dibanderol Rp 560,5 juta (naik Rp 55 juta), dan J6 iWD menjadi Rp 625,5 juta — kenaikan hingga Rp 60 juta dari harga sebelumnya.

Polytron tidak ketinggalan. G3+ dengan skema sewa baterai naik Rp 34,5 juta menjadi Rp 373,5 juta, sementara versi dengan kepemilikan baterai naik Rp 46,5 juta menjadi Rp 505,5 juta. Selain keduanya, kenaikan lebih moderat juga tercatat untuk sejumlah model dari GWM, Hyundai, MG, dan Nissan dalam kisaran Rp 2 hingga 19 juta.

Kenapa harga EV bisa naik sebesar ini?

Ada dua kebijakan pajak yang bergabung dan menciptakan efek ganda. Pertama, insentif PPnBM DTP (Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah) yang selama ini membuat pembeli EV hanya membayar PPN 1% tidak lagi berlaku di 2026. Kedua, sesuai dengan amanat UU Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP), tarif PPN reguler naik dari 11% menjadi 12%.

Kombinasi keduanya menghasilkan selisih efektif sekitar 11 persen dari harga kendaraan — dan kalau mobilnya seharga Rp 500 juta, 11 persen itu berarti Rp 55 juta tambahan yang harus ditanggung pembeli. Ini yang menjelaskan angka-angka kenaikan yang terlihat di daftar harga Maret ini.

Lebih detail tentang struktur pajak dan perubahan kebijakan insentif EV 2026 bisa kamu baca di ulasan kebijakan insentif kendaraan listrik 2026 dari AstraOtoshop.

BYD, Wuling, dan AION tidak kena: kenapa bisa berbeda?

Yang menarik: tidak semua merek EV terdampak. BYD, Wuling, AION, VinFast, VW, dan Geely tercatat tidak mengalami kenaikan harga yang signifikan di periode yang sama. Perbedaannya ada di skema produksi.

Merek-merek yang tidak kena dampak besar umumnya sudah merakit kendaraan secara lokal (CKD) di Indonesia, atau punya struktur pengenaan pajak yang berbeda karena kandungan lokal (TKDN) yang memenuhi syarat. Sementara merek yang paling terdampak — seperti Chery, Xpeng, dan sebagian Polytron — masih mengandalkan skema impor utuh (CBU) untuk beberapa modelnya. Insentif yang berakhir memang paling terasa untuk kendaraan impor CBU, karena dasar pengenaan pajaknya lebih tinggi sejak awal.

Apa artinya untuk calon pembeli?

Pertanyaan yang wajar: apakah masih worth it beli EV sekarang setelah harga naik? Jawabannya tergantung dari mana kamu membandingkan.

Biaya operasional EV — terutama kalau kamu punya sistem home charging yang efisien — masih jauh di bawah kendaraan bensin untuk pemakaian harian. Kenaikan harga beli memang terasa di awal, tapi total cost of ownership dalam 3-5 tahun tetap bisa lebih kompetitif untuk pengemudi yang menempuh jarak cukup jauh setiap harinya.

Yang perlu dicatat: kenaikan ini bukan sesuatu yang kemungkinan besar akan dibalik dalam waktu dekat. Tidak ada sinyal dari Kementerian Keuangan soal reinstatement insentif PPN-DTP untuk EV di 2026. Artinya, kalau kamu memang sudah siap secara finansial dan sudah mengincar model tertentu, harga sekarang kemungkinan adalah harga yang akan bertahan — dan beberapa merek CBU berpotensi masih punya adjustment lanjutan.

Sekilas tentang posisi EV impor di pasar dan dampak kebijakan pajak terhadap adopsinya bisa kamu baca di analisis dampak berakhirnya insentif EV impor CBU.

Editor-in-chief Bros & Roads. Nulis dari jalanan, bukan dari kursi kantor.