Kalau kamu lihat jalanan Indonesia sekarang, mobil China sudah jadi pemandangan biasa. BYD M6 ada di mana-mana, Wuling Air EV parkir di mal-mal, Chery Tiggo Cross melintas di tol. Tapi yang mungkin banyak orang lupa: ini bukan pertama kalinya brand China mencoba peruntungan di Indonesia. Sekitar 20 tahun lalu, Chery sudah pernah datang dan hengkang tanpa banyak yang menangis.
Perjalanan mobcin atau mobil brand China di Indonesia adalah salah satu cerita paling menarik di industri otomotif nasional. Dari dicemooh, dianggap barang murahan, sampai kini diperhitungkan serius oleh brand Jepang yang sudah puluhan tahun berkuasa. Ada beberapa faktor yang berubah, dan hampir semuanya bukan soal mobilnya saja.
Saat Chery pertama hilang tanpa kabar

Tahun 2006, Chery masuk Indonesia lewat kerja sama dengan Indomobil. Dua model yang dibawa: Chery QQ, city car mungil yang mencoba menyaingi Hyundai Atoz, dan Chery Tigo, SUV compact. Di atas kertas, strateginya masuk akal. Mobil China bisa dijual lebih murah, dan Indonesia pasar yang sensitif harga. Kenyataannya? Antara 2009 sampai 2010, penjualan tahunan Chery tidak pernah tembus seribu unit.
Masalahnya bukan cuma soal produk. Chery QQ dan Tigo datang di saat konsumen Indonesia masih sangat skeptis terhadap kualitas buatan China. Jaringan after-sales yang terbatas, ketersediaan suku cadang yang buruk, dan reputasi yang hancur karena isu kualitas membuat Chery tidak punya daya tahan. Tahun 2011, Chery hengkang dari Indonesia.
Tapi Chery bukan satu-satunya. Nama-nama seperti Geely, yang sempat hadir lewat Geely CK dan Geely Panda di era yang sama, juga gagal meninggalkan jejak. Era 2000-an adalah masa di mana “Made in China” adalah stigma di industri otomotif Indonesia.
Yang berubah dari pendekatan brand China
Kurang lebih satu dekade setelah Chery hengkang, gelombang kedua brand China masuk ke Indonesia. Tapi pendekatannya berbeda total. Bukan lagi sekadar impor mobil murah, tapi investasi serius dari hulu ke hilir.
Wuling jadi pelopornya pada 2017, dengan investasi pabrik di Cikarang yang mencapai ratusan juta dolar. BYD menyusul dengan pabrik di Subang. Chery, yang kembali pada 2023, juga berkomitmen untuk perakitan lokal. Ini bukan lagi strategi jual-dan-lari. Mereka datang untuk tinggal.
Selain itu, produk yang ditawarkan juga berbeda kelas. Bukan mobil murah dengan fitur minim, tapi kendaraan yang secara spesifikasi bisa menyaingi — bahkan melampaui — kompetisi Jepang di kelas harga yang sama. Layar besar, fitur keselamatan lengkap, dan yang paling krusial: teknologi elektrifikasi.
Wuling, pelopor yang membuka jalan
Strategi Wuling patut dicermati. Mereka tidak langsung bermain di segmen EV. Pertama, Wuling menguji pasar dengan Confero dan Cortez di segmen MPV yang sangat kompetitif. Baru setelah brand recognition terbangun, mereka masuk EV lewat Air EV yang langsung menjadi ikon mobil listrik terjangkau.
Di artikel GAC E8 MPV PHEV sebelumnya, kami sudah membahas bagaimana Wuling Cortez Darion PHEV membuktikan bahwa ada pasar untuk MPV elektrifikasi di Indonesia. Wuling kini sudah menjual lebih dari 5.500 unit hanya di Bali per Maret 2026. Angka yang tidak kecil untuk satu wilayah.
BYD dan efek bola salju

Kalau Wuling membuka pintu, BYD yang mendobraknya. Masuk resmi tahun 2024, BYD langsung agresif dengan harga yang membuat kompetisi terperangah. BYD M6, MPV listrik pertama di Indonesia, langsung menjadi best-seller dengan lebih dari 15.700 unit terjual.
Sepanjang 2025, BYD mencatat distribusi 46.711 unit, menguasai 4,8% pangsa pasar nasional. Posisi ini menempatkan BYD di peringkat ke-6 di antara semua merek mobil di Indonesia — prestasi yang luar biasa untuk brand yang baru dua tahun hadir. Ditambah lagi, pada Januari 2025, BYD menguasai 36% pasar EV Indonesia.
Efek BYD tidak berhenti di angka penjualan mereka. Kehadiran BYD memaksa brand Jepang mempercepat strategi elektrifikasi. Honda memperluas lini hybrid, Toyota menurunkan harga bZ4X setelah diproduksi lokal, dan Mitsubishi bersiap meluncurkan Xpander Hybrid.
Chery kembali, dan kali ini serius
Cerita Chery adalah yang paling menarik. Brand yang sama yang gagal total di era 2000-an, kembali pada 2023 dan dalam dua tahun berhasil menyalip BYD sebagai brand China terlaris di Indonesia pada September 2025. Sepanjang 2025, Chery membukukan 16.720 unit dengan market share 2,6%.
Produk seperti Chery Tiggo 9 CSH yang kami ulas sebelumnya menunjukkan bahwa Chery tidak main-main. PHEV 7-seater dengan 395 PS dan EV range 180 km di harga Rp 739,9 juta — spesifikasi yang sulit ditandingi kompetisi Jepang di kelas yang sama.
Bedanya dengan era 2000-an: kali ini Chery datang dengan produk yang matang, jaringan dealer yang serius, dan yang paling penting, beban stigma “China murahan” sudah jauh berkurang berkat Wuling dan BYD yang membuka jalan sebelumnya.
Apa artinya untuk konsumen Indonesia?
Sampai akhir 2025, ada 16 brand China yang memasarkan produk di Indonesia — jumlah yang melampaui 12 brand Jepang. Data dari Gaikindo menunjukkan pangsa pasar mobil listrik menembus 12,93% dari total penjualan nasional yang mencapai 803.687 unit di 2025. Sebagian besar dari angka itu disumbang brand China.
Untuk kamu yang mungkin sedang mempertimbangkan mobil China: pertimbangan rasionalnya sekarang jauh lebih kuat daripada lima atau sepuluh tahun lalu. Jaringan dealer sudah lebih luas, ketersediaan suku cadang membaik, dan garansi yang ditawarkan kompetitif. Tapi tetap ada hal yang perlu dicermati: nilai jual kembali masih menjadi tanda tanya besar untuk sebagian besar brand China, dan pengalaman servis jangka panjang belum teruji seperti brand Jepang.
Yang jelas, persaingan ini menguntungkan konsumen. Brand Jepang yang dulu bisa “seenaknya” dengan harga dan fitur, sekarang harus bekerja lebih keras. Dan brand China, yang dulu dicemooh, kini duduk di meja yang sama.

