Skip to content
Menakar Kekuatan Ekspor Mobil Buatan Indonesia di Tengah Pergeseran Pasar GlobalBaterai LFP vs NMC untuk mobil listrik di iklim tropis IndonesiaMenelisik Syarat Garansi Baterai Seumur Hidup Mobil ListrikHonda Terlempar dari Tiga Besar, Brio Jadi Tulang Punggung 64 Persen PenjualanChina Ambil Headline, Toyota Ambil Untung dari Pasar Hybrid IndonesiaInfrastruktur SPKLU Indonesia Kalah dari Thailand dan ASEANGanti Warna Logo: Ketika Dealer Mobil Jepang Mulai Berpindah ke Merek ChinaPangsa Pasar Astra Turun ke 49%, Benarkah Dominasi Jepang di Indonesia Sudah Melemah?Menakar Kekuatan Ekspor Mobil Buatan Indonesia di Tengah Pergeseran Pasar GlobalBaterai LFP vs NMC untuk mobil listrik di iklim tropis IndonesiaMenelisik Syarat Garansi Baterai Seumur Hidup Mobil ListrikHonda Terlempar dari Tiga Besar, Brio Jadi Tulang Punggung 64 Persen PenjualanChina Ambil Headline, Toyota Ambil Untung dari Pasar Hybrid IndonesiaInfrastruktur SPKLU Indonesia Kalah dari Thailand dan ASEANGanti Warna Logo: Ketika Dealer Mobil Jepang Mulai Berpindah ke Merek ChinaPangsa Pasar Astra Turun ke 49%, Benarkah Dominasi Jepang di Indonesia Sudah Melemah?
Komparasi

Impresi Citroën e-C3: satu varian, satu warna, dan ride quality terbaik di kelasnya

Kami mencoba Citroën e-C3 dan satu hal langsung terasa: ride quality-nya terbaik di antara EV Rp 300-400 juta. Apakah itu cukup alasan untuk membelinya?

Di kelas EV Rp 300-400 juta, hampir semua nama yang tersedia datang dari China. MG, AION, Jaecoo, BYD: mereka mendominasi segmen ini dengan spesifikasi yang terus diperbarui dan harga yang makin agresif. Di tengah itu, dua nama dari luar China diam-diam masuk ke kisaran harga yang sama. Yang pertama dari Vietnam dengan brand andalan mereka VinFast. Kedua datang dari Eropa, mengusung mobil listrik affordable mereka: Citroën e-C3, crossover listrik dari brand Prancis yang kini berada di bawah payung Stellantis. Kami sudah mencoba yang terakhir ini, dan ada satu hal yang langsung terasa berbeda.

Citroën e-C3 hadir dalam satu varian dan satu warna. Tidak ada pilihan tambahan, tidak ada upgrade antarvarian, tidak ada dilema saat di showroom. Harga tunggal: Rp 380,5 juta OTR Jakarta. Apakah ini strategi yang disengaja atau keterbatasan? Setelah beberapa waktu bersama e-C3 di berbagai kondisi jalan, jawabannya cenderung ke yang pertama.

Harga OTR JakartaRp 380,5 juta
MotorPermanent Magnet Synchronous
Tenaga57 PS
Torsi143 Nm
PenggerakFWD
Baterai29,2 kWh
Range MIDC320 km
Charging AC (estimasi)10,5 jam (penuh)
Charging DC (estimasi)57 menit (10-80%)
Garansi baterai7 tahun / 140.000 km

Suspensi Citroën e-C3: ini yang tidak bisa dibeli dengan spesifikasi

Ini yang pertama terasa begitu Citroën e-C3 mulai bergerak di jalan aspal Indonesia: karakternya berbeda. Pada kecepatan rendah hingga menengah, termasuk saat melewati polisi tidur, sambungan jalan yang tidak rata, dan permukaan rusak ringan, e-C3 menyerap getaran dengan cara yang lebih mature dari yang kami ekspektasikan dari kendaraan di harga ini.

Citroën punya sejarah panjang dalam desain suspensi yang mengutamakan kenyamanan berkendara. Filosofi itu terasa hidup kembali di Citroën e-C3, meski dalam skala crossover kompak. Di antara semua EV yang pernah kami coba di range harga Rp 300-400 juta, ride quality e-C3 adalah yang paling konsisten saat menghadapi kondisi jalan Indonesia. Ini bukan keunggulan yang muncul di lembar spesifikasi, dan justru karena itu sulit diabaikan begitu kamu sudah merasakannya langsung.

Konsekuensinya: handling bukan yang paling tajam di kelasnya. Citroën jelas tidak mendesain e-C3 untuk pengemudi yang mencari respons sporty. Ini kendaraan yang dibuat untuk orang yang menghabiskan lebih banyak waktu di jalan kota dengan kondisi tidak menentu, bukan di ruas tol yang mulus.

Citroën e-C3 di antara kompetitor: kalah di angka, unggul di karakter

Di harga Rp 380,5 juta, kompetitor terdekat secara angka adalah MG S5 EV Ignite yang dibanderol Rp 333,9 juta. Selisih hampir Rp 47 juta, dengan baterai lebih besar dan fitur lebih banyak secara spesifikasi. Kalau kamu belanja berdasarkan spreadsheet angka, pilihan jelas condong ke MG. Tapi kalau kamu pernah merasakan langsung perbedaan ride quality keduanya di jalan nyata, kalkulasinya tidak lagi sesederhana itu.

Di rentang yang sedikit lebih luas, ada juga AION UT yang bermain di segmen serupa dengan pendekatan yang lebih agresif secara spesifikasi. Pilihan semakin banyak, dan Citroën e-C3 harus membuktikan bahwa premium kecil harganya setara dengan pengalaman berkendara yang ditawarkan.

VinFast VF3, sebagai sesama brand non-China, bermain di segmen yang berbeda: body lebih kecil, range lebih pendek di 215 km, dan harga jauh lebih agresif mulai Rp 156 juta dengan skema Battery-as-a-Service. Keduanya sama-sama mewakili opsi di luar dominasi brand China, tapi tidak bisa dibandingkan langsung karena posisi dan use case yang berbeda.

Keterbatasan yang perlu masuk kalkulasi sebelum membeli

Ada beberapa hal yang perlu diketahui sebelum memutuskan. Kecepatan maksimum e-C3 dibatasi di 107 km/jam, yang berarti di lajur kanan tol, e-C3 tidak bisa mengikuti arus kecepatan tinggi. Untuk pengguna yang aktivitasnya mayoritas di dalam kota, ini tidak jadi masalah. Untuk pengguna yang sering keluar kota, ini perlu dipikirkan.

Citroën e-C3 hadir hanya dalam satu varian dan satu warna. Tidak ada pilihan tambahan. Buat sebagian pembeli, ini justru menyederhanakan keputusan. Buat sebagian lainnya, ini terasa terlalu membatasi.

Soal nilai jual kembali, EV dari brand non-mainstream di Indonesia memang punya tantangan tersendiri yang perlu dihitung sejak awal. Tren depresiasi di pasar sekunder adalah topik yang layak dibaca sebelum membuat keputusan, dan kami sudah membahasnya di artikel tentang depresiasi EV bekas di Indonesia.

Charging, garansi, dan ekosistem jangka panjang

Citroën memberikan garansi baterai 7 tahun atau 140.000 km, salah satu coverage paling panjang di segmennya. Pengisian DC mengantarkan baterai dari 10 persen ke 80 persen dalam sekitar 57 menit, angka yang wajar untuk kapasitas 29,2 kWh. Pengisian AC penuh membutuhkan sekitar 10,5 jam, cukup untuk diisi semalam. Detail lengkap spesifikasi dan jaringan dealer bisa dilihat di situs resmi Citroën Indonesia.

Yang perlu jadi catatan serius: jaringan dealer dan bengkel resmi Citroën di Indonesia belum seluas merek Jepang atau beberapa merek China yang sudah membangun network secara agresif. Untuk pengguna di luar kota besar, aksesibilitas bengkel resmi wajib dicek terlebih dahulu sebelum memutuskan.

Verdict Bros & Roads
Citroën e-C3 bukan EV yang menang di atas kertas. Range bukan yang terpanjang, fitur bukan yang terlengkap, kecepatan maksimum pun dibatasi di 107 km/jam. Tapi ada satu hal yang langsung terasa saat dikemudikan di jalan Indonesia: ride quality-nya adalah yang paling konsisten di antara EV sekelasnya, dan itu bukan klaim kecil.

Buat kamu yang mayoritas aktivitasnya di dalam kota dengan kondisi jalan tidak menentu, e-C3 punya argumen yang kuat. Satu catatan penting: cek ketersediaan jaringan servis Citroën di kotamu sebelum tanda tangan.
Worth it untuk city drivingRide quality terbaik di kelasnyaCek jaringan servis dulu

Editor-in-chief Bros & Roads. Nulis dari jalanan, bukan dari kursi kantor.