Di kelas EV Rp 300-400 juta, hampir semua nama yang tersedia datang dari China. MG, AION, Jaecoo, BYD: mereka mendominasi segmen ini dengan spesifikasi yang terus diperbarui dan harga yang makin agresif. Di tengah itu, dua nama dari luar China diam-diam masuk ke kisaran harga yang sama. Yang pertama dari Vietnam dengan brand andalan mereka VinFast. Kedua datang dari Eropa, mengusung mobil listrik affordable mereka: Citroën e-C3, crossover listrik dari brand Prancis yang kini berada di bawah payung Stellantis. Kami sudah mencoba yang terakhir ini, dan ada satu hal yang langsung terasa berbeda.
Citroën e-C3 hadir dalam satu varian dan satu warna. Tidak ada pilihan tambahan, tidak ada upgrade antarvarian, tidak ada dilema saat di showroom. Harga tunggal: Rp 380,5 juta OTR Jakarta. Apakah ini strategi yang disengaja atau keterbatasan? Setelah beberapa waktu bersama e-C3 di berbagai kondisi jalan, jawabannya cenderung ke yang pertama.
| Harga OTR Jakarta | Rp 380,5 juta |
| Motor | Permanent Magnet Synchronous |
| Tenaga | 57 PS |
| Torsi | 143 Nm |
| Penggerak | FWD |
| Baterai | 29,2 kWh |
| Range MIDC | 320 km |
| Charging AC (estimasi) | 10,5 jam (penuh) |
| Charging DC (estimasi) | 57 menit (10-80%) |
| Garansi baterai | 7 tahun / 140.000 km |
Suspensi Citroën e-C3: ini yang tidak bisa dibeli dengan spesifikasi
Ini yang pertama terasa begitu Citroën e-C3 mulai bergerak di jalan aspal Indonesia: karakternya berbeda. Pada kecepatan rendah hingga menengah, termasuk saat melewati polisi tidur, sambungan jalan yang tidak rata, dan permukaan rusak ringan, e-C3 menyerap getaran dengan cara yang lebih mature dari yang kami ekspektasikan dari kendaraan di harga ini.
Citroën punya sejarah panjang dalam desain suspensi yang mengutamakan kenyamanan berkendara. Filosofi itu terasa hidup kembali di Citroën e-C3, meski dalam skala crossover kompak. Di antara semua EV yang pernah kami coba di range harga Rp 300-400 juta, ride quality e-C3 adalah yang paling konsisten saat menghadapi kondisi jalan Indonesia. Ini bukan keunggulan yang muncul di lembar spesifikasi, dan justru karena itu sulit diabaikan begitu kamu sudah merasakannya langsung.
Konsekuensinya: handling bukan yang paling tajam di kelasnya. Citroën jelas tidak mendesain e-C3 untuk pengemudi yang mencari respons sporty. Ini kendaraan yang dibuat untuk orang yang menghabiskan lebih banyak waktu di jalan kota dengan kondisi tidak menentu, bukan di ruas tol yang mulus.
Citroën e-C3 di antara kompetitor: kalah di angka, unggul di karakter
Di harga Rp 380,5 juta, kompetitor terdekat secara angka adalah MG S5 EV Ignite yang dibanderol Rp 333,9 juta. Selisih hampir Rp 47 juta, dengan baterai lebih besar dan fitur lebih banyak secara spesifikasi. Kalau kamu belanja berdasarkan spreadsheet angka, pilihan jelas condong ke MG. Tapi kalau kamu pernah merasakan langsung perbedaan ride quality keduanya di jalan nyata, kalkulasinya tidak lagi sesederhana itu.
Di rentang yang sedikit lebih luas, ada juga AION UT yang bermain di segmen serupa dengan pendekatan yang lebih agresif secara spesifikasi. Pilihan semakin banyak, dan Citroën e-C3 harus membuktikan bahwa premium kecil harganya setara dengan pengalaman berkendara yang ditawarkan.
VinFast VF3, sebagai sesama brand non-China, bermain di segmen yang berbeda: body lebih kecil, range lebih pendek di 215 km, dan harga jauh lebih agresif mulai Rp 156 juta dengan skema Battery-as-a-Service. Keduanya sama-sama mewakili opsi di luar dominasi brand China, tapi tidak bisa dibandingkan langsung karena posisi dan use case yang berbeda.
Keterbatasan yang perlu masuk kalkulasi sebelum membeli
Ada beberapa hal yang perlu diketahui sebelum memutuskan. Kecepatan maksimum e-C3 dibatasi di 107 km/jam, yang berarti di lajur kanan tol, e-C3 tidak bisa mengikuti arus kecepatan tinggi. Untuk pengguna yang aktivitasnya mayoritas di dalam kota, ini tidak jadi masalah. Untuk pengguna yang sering keluar kota, ini perlu dipikirkan.
Citroën e-C3 hadir hanya dalam satu varian dan satu warna. Tidak ada pilihan tambahan. Buat sebagian pembeli, ini justru menyederhanakan keputusan. Buat sebagian lainnya, ini terasa terlalu membatasi.
Soal nilai jual kembali, EV dari brand non-mainstream di Indonesia memang punya tantangan tersendiri yang perlu dihitung sejak awal. Tren depresiasi di pasar sekunder adalah topik yang layak dibaca sebelum membuat keputusan, dan kami sudah membahasnya di artikel tentang depresiasi EV bekas di Indonesia.
Charging, garansi, dan ekosistem jangka panjang
Citroën memberikan garansi baterai 7 tahun atau 140.000 km, salah satu coverage paling panjang di segmennya. Pengisian DC mengantarkan baterai dari 10 persen ke 80 persen dalam sekitar 57 menit, angka yang wajar untuk kapasitas 29,2 kWh. Pengisian AC penuh membutuhkan sekitar 10,5 jam, cukup untuk diisi semalam. Detail lengkap spesifikasi dan jaringan dealer bisa dilihat di situs resmi Citroën Indonesia.
Yang perlu jadi catatan serius: jaringan dealer dan bengkel resmi Citroën di Indonesia belum seluas merek Jepang atau beberapa merek China yang sudah membangun network secara agresif. Untuk pengguna di luar kota besar, aksesibilitas bengkel resmi wajib dicek terlebih dahulu sebelum memutuskan.
Buat kamu yang mayoritas aktivitasnya di dalam kota dengan kondisi jalan tidak menentu, e-C3 punya argumen yang kuat. Satu catatan penting: cek ketersediaan jaringan servis Citroën di kotamu sebelum tanda tangan.

