Pasar mobil listrik Indonesia mencatat pertumbuhan signifikan pada Juni 2026. Gaikindo mencatat distribusi mobil listrik murni dan PHEV tembus 12.653 unit di Juni, melonjak 35,8% dibandingkan Mei yang hanya 9.290 unit. Lonjakan ini jadi sinyal kuat bahwa minat terhadap kendaraan elektrifikasi tetap tinggi, meskipun insentif pemerintah masih belum juga terealisasi sepenuhnya.
Jaecoo J5 masih mendominasi, tapi cerita BYD lebih menarik
Jaecoo J5 EV bertahan di posisi teratas daftar mobil listrik terlaris Juni 2026 dengan distribusi 3.041 unit. Satu-satunya model listrik yang dijual Jaecoo di Indonesia ini memang jadi pilihan favorit di segmen SUV listrik. Harganya yang kompetitif dan distribusi yang gencar lewat dealer-dealer jadi kunci kesksesannya.
Namun yang lebih menarik perhatian justru ada di posisi kedua. BYD Atto 1 mencatatkan lompatan paling drastis di antara semua model: dari cuma 26 unit di Mei jadi 2.249 unit di Juni. Kenaikan hampir 100 kali lipat dalam sebulan ini terjadi karena distribusi BYD Atto 1 yang sebelumnya tersendat akibat transisi produksi dari impor CBU ke lokal di Subang, mulai lancar lagi.
Secara total, BYD mendistribusikan 3.439 unit mobil listrik di Juni 2026 yang berasal dari berbagai model: Seal, Atto 3, Dolphin, M6, Sealion 7, E6, sampai Atto 1. Kontributor terbesar memang BYD Atto 1 dengan 2.249 unit.
Geely tetap hadir lewat EX2 dan EX5
Geely menjaga posisinya di papan atas dengan total distribusi 1.966 unit dari dua model: EX2 dan EX5. EX2 bahkan masuk tiga besar mobil listrik terlaris dengan 1.618 unit. Pabrikan asal China ini memang agresif mengejar pangsa pasar lewat dua model SUV listrik yang berbeda karakter.
Wuling melengkapi daftar dengan distribusi 1.351 unit dari seluruh lini mobil listriknya, termasuk Eksion EV yang cukup banyak diburu untuk segmen MPV keluarga. Denza D9, MG S5, dan VinFast VF3 juga mencatat angka distribusi, menunjukkan bahwa ekosistem mobil listrik Indonesia makin beragam.
Tanpa insentif, pasar EV tetap tumbuh: apa yang menggerakkan?
Yang perlu dicatat dari data Juni 2026: pertumbuhan EV terjadi tanpa dorongan penuh dari insentif pemerintah. Kebijakan insentif mobil listrik yang awalnya dijadwalkan berlaku Juni, akhirnya diundur ke Juli 2026. Artinya, lonjakan 35,8% ini murni dari minat pasar dan upaya distribusi pabrikan, bukan dari subsidi.
Dua hal yang menggerakkan. Pertama, ketersediaan produk makin banyak dan bervariasi. Dari SUV premium sampai MPV keluarga, dari harga Rp 200 jutaan sampai Rp 1 miliar, konsumen punya banyak pilihan, seperti yang sudah tercermin di peta harga mobil listrik per Juni 2026. Kedua, distribusi yang makin merata dari dealer ke konsumen setelah masa transisi produksi beberapa merek selesai.
Secara kumulatif, sepanjang semester pertama 2026, distribusi mobil listrik telah menembus 69.739 unit. Pencapaian ini berkontribusi 16% terhadap total penjualan kendaraan pada periode Januari-Juni 2026. Artinya, 1 dari 6 mobil yang dijual di Indonesia semester pertama 2026 adalah mobil listrik atau elektrifikasi.
Jaecoo J5 dan BYD Atto 1 jadi dua cerita berbeda di Juni. Yang satu sudah terbiasa di puncak, yang satu sedang dalam proses comeback dramatis. Keduanya juga adalah bagian dari persaingan brand China yang makin agresif menggeser dominasi Jepang di pasar otomotif Indonesia. Konsumen Indonesia mulai serius mempertimbangkan mobil listrik sebagai opsi, bukan lagi sekadar pertanyaan teoritis.

