China bakal menerapkan standar keselamatan baterai mobil listrik paling ketat yang pernah ada, mulai 1 Juli 2026. Lewat regulasi GB 38031-2025, pemerintah China mewajibkan baterai kendaraan listrik untuk tidak terbakar dan tidak meledak dalam kondisi apa pun, bahkan saat thermal runaway sekalipun. Buat Indonesia yang mayoritas mobil listriknya berasal dari pabrikan China, aturan ini dampaknya langsung kerasa.
Apa itu standar GB 38031-2025?
GB 38031-2025 adalah revisi dari standar lama yang cuma mensyaratkan peringatan lima menit sebelum baterai terbakar. Sekarang aturannya jauh lebih ketat. Setelah thermal runaway terjadi, baterai tidak boleh mengeluarkan percikan api dan tidak boleh meledak minimal 120 menit. Asap yang dihasilkan pun dilarang membahayakan penumpang. Standar ini disetujui oleh State Administration for Market Regulation (SAMR) sebagai bagian dari 294 standar nasional baru yang dirilis sekaligus.
Selain uji thermal runaway, ada dua tes baru yang diperkenalkan. Pertama, bottom impact testing yang menguji ketahanan baterai pas bagian bawah mobil kena benturan. Kedua, fast-charging cycle safety testing yang mewajibkan baterai bertahan 300 siklus fast charging tanpa terbakar atau meledak saat pengujian short circuit.
Kenapa aturan ini muncul sekarang?
Kekhawatiran publik soal risiko kebakaran mobil listrik jadi pemicu utamanya. Insiden Xiaomi SU7 yang terbakar setelah tabrakan di Maret 2025 jadi salah satu momen yang bikin pemerintah China bergerak cepat. Mereka sadar pasar EV yang lagi booming ini bisa terganggu kalo masalah keamanan baterai nggak diseriusin.
Lewat laporan dari Berita Satu yang mengutip pernyataan resmi pemerintah China, standar ini adalah bagian dari Action Plan to Promote Equipment Renewal and Consumer Goods Trade-In Through Standards, yang intinya mendorong peningkatan kualitas produk di semua sektor.
Dampak buat Indonesia: konsumen untung?
Indonesia adalah salah satu pasar terbesar mobil listrik China. BYD, Wuling, Chery, DFSK, sama Geely semua jualan EV di sini. Dengan standar GB 38031-2025, secara nggak langsung mobil listrik China yang masuk ke Indonesia bakal bawa standar keamanan baterai yang sama karena basis produksinya di China.
Dari yang kami amati, ini kabar baik. Sebagian mobil listrik di Indonesia udah pakai teknologi baterai yang relatif aman seperti BYD Blade Battery sama CATL’s No Thermal Propagation (NP) technology yang klaimnya udah memenuhi standar baru dari 2020. Tapi dengan aturan ini, produsen kecil pun dipaksa ikut level keamanan yang sama.
Satu hal yang perlu diingat: standar ini berlaku buat baterai yang diproduksi mulai Juli 2026. Mobil listrik yang sudah beredar sekarang nggak bakal ditarik. Tapi buat model-model baru yang meluncur setelah tanggal itu, konsumen bisa lebih tenang karena baterainya udah lolos uji yang jauh lebih berat.
Standar baterai di Indonesia: masih menunggu
Indonesia saat ini belum punya standar keselamatan baterai EV yang setara. Biaya asuransi mobil listrik di Indonesia saja sudah lebih tinggi karena baterai adalah komponen termahal. Tanpa standar lokal yang mewajibkan uji thermal runaway, konsumen Indonesia masih bergantung pada standar masing-masing pabrikan.
BSN sebenarnya udah mulai diskusi sama pihak internasional soal pengembangan standar baterai sejak akhir 2025. Tapi belum jelas kapan standar serupa bakal diadopsi. Kabar baiknya, mobil listrik terjangkau di Indonesia yang kebanyakan dari China setidaknya bakal bawa standar yang lebih baik karena basis produksinya harus comply sama GB 38031-2025.
Produsen baterai: CATL udah siap dari 2020
CATL, pemasok baterai terbesar dunia yang juga supply banyak pabrikan EV di Indonesia, udah siap. Teknologi No Thermal Propagation (NP) generasi pertama mereka udah diproduksi sejak 2020. Dalam uji tabrak samping kecepatan 120 km/jam, baterai CATL diklaim nggak ngeluarin api atau meledak sama sekali. Produsen lain diperkirakan bakal nyusul, meskipun biaya R&D yang lebih tinggi bisa bikin konsolidasi di antara produsen baterai skala kecil dan menengah.
Kesimpulan
Standar GB 38031-2025 China adalah langkah besar buat industri EV global. Dengan mewajibkan baterai yang bener-bener nggak gampang terbakar, China nggak cuma lindungin konsumennya sendiri, tapi juga ngerek standar keamanan di negara-negara pengimpor termasuk Indonesia. Kalo kamu lagi pertimbangin beli mobil listrik, ini satu alasan lagi buat lebih percaya diri sama teknologi baterai yang dipake.

