Di segmen hatchback listrik Indonesia, ada dua model yang sama-sama bermain dengan kartu desain retro-modern tapi dengan filosofi yang sangat berbeda: Wuling BinguoEV dan GWM Ora O3. Keduanya datang dari China, keduanya punya tampang yang sengaja mengambil inspirasi dari estetika klasik, dan keduanya menyasar pembeli yang ingin sesuatu yang berbeda dari lautan SUV boxy yang mendominasi showroom. Tapi di balik kesamaan visual itu, pilihannya jauh dari setara.
Wuling BinguoEV: harga masuk, tapi ada konsekuensinya
BinguoEV adalah salah satu EV produksi lokal di Indonesia, dibuat di pabrik Wuling di Cikarang. Ini relevan karena produksi lokal berarti tidak terkena tarif impor, yang secara langsung memengaruhi daya saing harganya. Varian Lite-nya dimulai dari Rp 279 juta, menjadikannya salah satu hatchback listrik paling terjangkau di pasaran saat ini. Varian Pro-nya berada di Rp 332 juta dengan baterai lebih besar.
Dari aspek teknis, BinguoEV punya beberapa nilai jual yang solid. Efisiensi baterainya cukup mengesankan: dalam pengujian nyata yang dilakukan beberapa media, konsumsi tercatat sekitar 10,8 km/kWh, angka yang kompetitif untuk kelas ini. Respons setirnya juga diakui cukup gesit untuk penggunaan harian di kota.
Masalahnya ada di satu area yang makin sulit diabaikan: ADAS. BinguoEV minim fitur keselamatan aktif untuk kelasnya. Tidak ada adaptive cruise control, tidak ada lane keeping assist. Di segmen harga yang sama, beberapa model China lain sudah menawarkan paket ADAS yang jauh lebih lengkap. Kalau keselamatan aktif adalah prioritasmu, ini catatan serius.
| Harga OTR Jakarta | Rp 279 juta (Lite) / Rp 332 juta (Pro) |
| Motor | Permanent Magnet Synchronous |
| Baterai | 31,9 kWh (Lite) / 37,9 kWh (Pro) |
| Range (NEDC) | 333 km (Lite) / 410 km (Pro) |
| Charging DC | 30–80% dalam 35 menit |
| Charging AC | 5–8 jam |
GWM Ora O3: lebih mahal, lebih lengkap, lebih percaya diri
GWM Ora O3 hadir dengan satu varian saja, harga Rp 379 juta. Ini berarti kamu tidak punya pilihan, tapi sisi positifnya: konfigurasi yang kamu dapat langsung lengkap tanpa harus memilih antara varian yang “kurang” dan yang “seharusnya”.
Yang langsung membedakannya adalah kedalaman paket ADAS: 15 fitur Level 2, termasuk adaptive cruise control dan lane keeping assist. Ditambah kamera 360 derajat dan rating bintang 5 dari Euro NCAP, ini adalah salah satu paket keselamatan terlengkap di segmen hatchback EV Indonesia saat ini. Head unit 17,25 inci juga memberikan kesan premium yang tidak dimiliki BinguoEV.
Dari sisi baterai, kapasitas 47 kWh dengan klaim range 400 km memberikan ruang gerak yang lebih lega untuk perjalanan luar kota. Waktu fast charging 30-80% dalam 32 menit sedikit lebih cepat dari BinguoEV, walaupun perbedaannya tidak dramatis di penggunaan sehari-hari.
Satu hal yang perlu diperhatikan: Ora O3 adalah CBU, bukan produksi lokal. Ini membuatnya lebih rentan terhadap perubahan harga akibat kebijakan impor, seperti yang sudah pernah kita lihat di beberapa model EV lain. Kalau kamu perhatikan kenaikan harga EV yang terjadi di Maret 2026, model CBU adalah yang paling terdampak.
| Harga OTR Jakarta | Rp 379 juta (satu varian) |
| Motor | Permanent Magnet Synchronous |
| Baterai | 47 kWh |
| Range (klaim) | 400 km |
| Charging DC | 30–80% dalam 32 menit |
| Charging AC | 0–80% dalam 46 menit |
| Fitur ADAS | 15 fitur Level 2 + kamera 360 |
| Keselamatan | 5 bintang Euro NCAP |
| Status impor | CBU (Completely Built Up) |
Desain retro yang sama, tapi bukan untuk pasar yang sama
Secara visual, keduanya memang sama-sama bermain di estetika retro-modern yang terinspirasi desain klasik era 1960-an. BinguoEV punya garis bodi yang rounded dan compact dengan tampilan playful, sementara Ora O3 punya sentuhan yang lebih mature dan premium, dengan ukuran bodi yang juga sedikit lebih besar (4235 mm vs sekitar 4050 mm untuk BinguoEV).
Ini bukan kebetulan. Target pasarnya memang berbeda. BinguoEV menyasar konsumen muda yang masuk EV untuk pertama kali dengan anggaran terbatas dan penggunaan utama di kota. Ora O3 menyasar mereka yang sudah lebih siap berinvestasi dan menginginkan pengalaman yang lebih lengkap, termasuk untuk sesekali pergi luar kota.
Kalau kamu ingin tahu lebih jauh tentang ekosistem EV sebelum memutuskan membeli, termasuk pertimbangan soal depresiasi EV bekas di Indonesia yang sering tidak masuk kalkulasi awal, itu layak diperhitungkan jauh sebelum tanda tangan SPK.
Mana yang lebih worth it?
Dari yang kami amati berdasarkan data yang tersedia, ini bukan soal mana yang lebih baik secara mutlak, tapi mana yang lebih sesuai dengan profil kamu. Kalau anggaran di bawah Rp 350 juta dan penggunaan utama di kota, BinguoEV Lite adalah pilihan yang rasional, dengan catatan kamu menerima keterbatasan ADAS-nya. Kalau kamu mau membayar Rp 100 juta lebih mahal untuk paket keselamatan dan fitur yang jauh lebih lengkap, Ora O3 memberikan value yang lebih solid untuk jangka panjang.
Yang tidak kami rekomendasikan: membeli BinguoEV Pro di Rp 332 juta dan membandingkannya langsung dengan Ora O3. Di selisih harga Rp 47 juta, Ora O3 menang di hampir semua aspek yang penting selain status produksi lokal.

